Selama tiga tahun Kent tidak bisa melakukan hubungan seks. Tapi siapa sangka, suatu malam ia tiba-tiba bisa ereksi ketika sedang bermesraan dengan pasangannya. Bukan viagra yang membuat ia seperti itu, tetapi implan stimulator listrik yang ditanam di tulangnya sebagai bagian dari studi tentang kelumpuhan dari University of Louisville.
"Aku tahu tidak bisa berjalan memang menimbulkan masalah besar bagi kami. Apalagi kami harus memakai kursi roda setiap hari. Tapi tidak bisa melakukan fungsi seksual juga masalah yang tak kalah besar," tutur Kent seperti dikutip dari CNN, Minggu (3/8/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti penuturan Kent, ia dan beberapa pasien yang mengalami kelumpuhan serupa terkadang kurang bisa mengontrol saat mereka akan buang air kecil atau besar. Oleh karena itulah stimulator ini tidak semata-mata hanya untuk memperbaiki fungsi seksual saja.
Menanggapi hal ini, Kim Anderson-Erisman, direktur pendidikan Miami Project menunjukkan survei yang pernah ia lakukan terhadap 300 orang lumpuh bahwa prioritas utama mereka adalah ingin memperbaiki masalah seksualnya. Memperbaiki kontrol kandung kemih berada di prioritas kedua dan ingin berjalan lagi menjadi prioritas kelima.
Senada dengan Kent, Andrew Meas yang turut andil dalam percobaan stimulator ini merasa terbantu untuk menyelesaikan masalah disfungsi seksualnya. Meskipun bisa kembali berjalan merupakan tujuan yang lebih penting tapi setidaknya bisa melakukan fungsi seksual membuatnya lebih optimistis.
(rdn/up)










































