Pasalnya perawat mengatakan bila brace itu jadi dipasangkan di kakinya, satu-satunya celana yang bisa ia kenakan ke sekolah hanyalah celana yang dilengkapi snap button (kancing tekan) di kedua sisinya.
Sesampainya di mobil, gadis asal New York ini mengeluh. "Aku tak mau pergi ke sekolah dengan celana anak laki-laki," kata ibu Charlotte, Sarah menirukan perkataan putrinya sambil tertawa. Apalagi saat itu adalah tahun pertama Charlotte masuk sekolah menengah. Ia tak mau malu karenanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena gangguan tersebut, tulang kaki Charlotte jadi sangat rapuh. Tapi dengan obat-obatan dan brace kaki (yang disebut Taylor Spatial Frame), kaki Charlotte yang rusak dapat dipanjangkan dan dibuat agar tumbuh normal kembali.
Dokter yang menangani Charlotte, Dr David Feldman, menambahkan brace kaki yang dipakai Charlotte juga dilengkapi beberapa pin yang menembus masuk ke tulangnya. Selama berbulan-bulan, ibu Charlotte dengan telaten memutar pin tersebut setiap malam agar tulang putrinya memanjang.
"Ini benar-benar seperti memakai kawat gigi. Jadi bila Anda memotong salah satu tulang dan memanjangkannya secara perlahan, misal satu milimeter perhari, maka tulang di belakangnya akan membentuk tulang baru," terang Dr Feldman yang juga Kepala bagian bedah ortopedi anak dari NYU Langone Medical Center.
Tercatat butuh waktu setahun agar tulang Charlotte terlihat mulai tumbuh sesuai dengan panjang yang diinginkan sejak dipasang pada bulan Juni 2011. Selain itu, gap di dalam tulang kering Charlotte juga 'ditambal' dengan cangkokan sel punca dari sumsum tulang belakangnya.
Untuk mengisi waktu luang dan agar Charlotte tak bosan, ibunya mendaftarkan gadis aktif ini ke kelas menjahit. Ia pun mulai bisa membuat beberapa baju, skinny jeans hingga baju penutup untuk brace-nya di musim dingin. Ia juga membuat underwear atau pakaian dalam khusus pengidap hemangioma sepertinya.
Hal ini pun mengilhami Charlotte untuk membuat lini clothing-nya sendiri. Ia memberinya nama 'No Guts No Glory' dan Charlotte memulai bisnisnya dengan menjual lima jenis underwear berkancing snap button yang berbeda.
Remaja berusia 17 tahun itu berharap clothing line-nya ini bisa memudahkan orang yang mengidap penyakit serupa dengannya.
(iva/up)











































