Dalam kesehariannya, Samaksamam kesulitan melakukan kegiatan sederhana seperti memakai baju, menyisir rambut, atau mengangkat sesuatu. Wanita 59 tahun yang belum menikah ini terpaksa menghabiskan waktunya di rumah selama 20 tahun dan tidak pernah pergi ke sekolah.
Tetapi, Samaksamam terpaksa berjualan kue untuk membiayai hidupnya dan orang tuanya. Kini, Samaksamam hidup dengan adik perempuan dan keponakannya. Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (4/9/2014), Samaksamam sudah menjalani tindakan medis tetapi tidak berhasil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dokter, sejak lahir Samaksamam mengalami Macrodystrophia Lipomastosa yang menyebabkan sebagian besar timbunan lemak didistribusikan ke sepanjang lengannya. Di usia 25, Samaksamam sempat menjalani operasi untuk melihat kondisinya, tetapi itu justru membuat kondisinya makin buruk.
"Saat operasi dokter tidak menghilangkan jaringan ini, lengan saya hanya dibuka dan dokter melihat jaringan lemak yang ada tidak terlalu bahaya, hanya memang agak tebal. Dokter juga tidak mengangkat jaringan itu karena takut merusak saraf di tangan saya. Setelah itu tangan saya justru terasa sakit," kisah Samaksamam.
Memang, sekitar 700 gram lemak dan darah sempat dikeluarkan dari lengan Samaksamam. Tetapi, beberapa bulan kemudian tangannya membesar lagi. Setelah menjalani scan MRI, barulah dokter menemukan bahwa Samaksamam mengalami Macrodystrophia Lipomastosa.
Menanggapi hal ini, ahli bedah plastik dr Eiju Uchinuma mengatakan kasus yang dialami Samaksamam sangat langka karena kedua lengannya membengkak dan makin besar. Menurut dr Uchinuma, Samaksamam adalah orang pertama di dunia yang mengalami Macrodystrophia Lipomastosa. "Penyebab penyakit ini belum diketahui dan karena itu tidak dapat disembuhkan," ujarnya.
(rdn/up)











































