Rongga Mata Bengkak dan Wajah Seperti Melorot karena Sindrom Langka

Rongga Mata Bengkak dan Wajah Seperti Melorot karena Sindrom Langka

- detikHealth
Sabtu, 06 Sep 2014 14:00 WIB
Rongga Mata Bengkak dan Wajah Seperti Melorot karena Sindrom Langka
foto: NYDailyNews
New York - Maan Singh lahir di India dengan kondisi langka bernama sindrom Pfeiffer. Sindrom ini mengakibatkan tengkorak, tulang wajah dan otak bocah ini berhenti tumbuh. Sekilas matanya terlihat bengkak seperti ditonjok.

Karena sindrom yang sama, kedua bola mata Maan pun menonjol keluar, dan bocah malang ini tak bisa makan, tidur bahkan bernapas seperti anak-anak seusianya. Belum lagi di kampungnya Maan sering jadi bahan ejekan. Bahkan tak jarang orang-orang melemparinya batu.

Beruntung Maan memiliki ayah dan ibu yang pantang menyerah. Demi sang anak, keduanya menjelajahi seluruh penjuru India untuk menemukan rumah sakit yang mampu menyembuhkan putra mereka. Namun nihil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tertekan karena anak pertama kami ini tampak begitu kesakitan," kata sang ibu, Priya seperti dikutip dari NY Daily News, Sabtu (6/9/2014).

Saat keluarga kecil ini nyaris putus asa, suatu ketika Priya menemukan sebuah organisasi bernama myFace. Dulunya organisasi ini bernama National Foundation for Facial Reconstruction yang berpusat di New York. Organisasi ini didirikan untuk membantu anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan operasi rekonstruksi wajah secara cuma-cuma.

Tak menunggu lama, Priya langsung mengirimkan surel ke organisasi tersebut pada bulan September tahun lalu. Permintaan Priya pun mendapat sambutan positif dari myFace dan tim bedah plastik anak dari New York University yang diwakili Dr David A. Staffenberg.

Setelah menunggu selama beberapa bulan, akhirnya Maan diboyong ke New York pada bulan Mei 2014 dan mendapatkan jadwal operasi rekonstruksi wajah pada tanggal 6 Juni 2014. Operasi pertamanya itu berlangsung selama enam jam.

Dalam operasi tersebut tim bedah terlebih dahulu harus mengangkat tulang-tulang di dahi, rongga mata, hidung dan rahang atas Maan. Sejujurnya Dr Staffenberg mengaku gugup dengan prosedur yang dilakoninya karena ia menangani seorang pasien yang baru berusia tiga tahun. Ini menjadikan Maan otomatis sebagai pasien termuda yang pernah dioperasi Dr Staffenberg.

"Operasinya sendiri sangat berbahaya dan begitu rumit," imbuh Dr Staffenberg.

Di akhir operasi, tim bedah memasangan semacam sekrup kecil di belakang kepala Maan yang harus diputar setiap hari agar tulang kepala Maan bisa bergerak. Cara ini juga berhasil mengurangi tekanan pada otak, bola mata dan saluran pernapasan Maan.

Yang paling menonjol, benjolan di atas rongga mata Maan pun mengempis. Dan minggu lalu, sekrup di belakang kepala Maan itu akhirnya dapat diangkat. Itu artinya kondisi Maan mulai pulih.

"Sekarang dia tampak lebih bahagia. Tidurnya bisa nyenyak, bahkan ia tak lagi mendengkur. Sebelum dioperasi ia juga tak berani bermain di luaran, tapi sekarang ia suka bepergian ke tempat-tempat ramai dan bermain dengan anak-anak sebayanya," tutur Priya lega.

Baik Priya maupun suaminya juga sangat bersyukur ada organisasi seperti myFace yang membantu orang-orang tak mampu seperti mereka.

(lil/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads