3 Jam waktunya terjaga dalam sehari sebenarnya didapat karena efek obat yang dikonsumsinya. Seandainya kisah di dongeng benar-benar terjadi padanya, bahwa dia akan terbangun begitu pria yang dicintai menciumnya. Sayangnya kehidupan nyata memang tidak seindah dongeng. Bahkan karena kondisinya, Helen tidak memiliki kehidupan percintaan, meski saat ini usianya sudah 36 tahun.
"Saya telah melewatkan banyak peristiwa penting dalam hidup," ujar Helen, dikutip dari Mirror, Senin (24/11/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ya, Helen sama sekali tidak ingat liburan bersama keluarga yang pernah dilakukannya. Meskipun melihat album foto yang 'merekam' liburan itu, Helen sama sekali tidak bisa mengingatnya. Pun saat dia merayakan ulang tahun dan Natal. Padahal dalam foto terlihat Helen yang begitu bahagia dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Karena Kleine-Levin Syndrome alias Sindrom Putri Tidur, Helen tidak bisa menyimpan kenangan indah di masa lalunya. Bahkan karena kondisinya, dia meninggalkan pekerjaannya dan sehari-hati tinggal di rumah bersama dua anjingnya.
Helen merasa terlalu lelah untuk melakukan pekerjaan apapun, meskipun hanya menonton televisi. Alhasil dia jarang keluar rumah. Pada saat tidur begitu lama, anjing-anjingnyalah yang membangunkan Helen dengan menyalak begitu ribut. Setelah terjaga, Helen butuh waktu 10 menit hingga satu jam untuk benar-benar bisa membuka mata dan menggerakkan anggota tubuhnya.
Menurut Helen, tubuhnya terasa kaku saat bangun tidur. "Tubuh saya sering begitu kaku dan lelah, sehingga saya tidak bisa mencuci priring, apalagi bersosialisasi," ucapnya.
Helen didiagnosis Sindrom Putri Tidur pada empat tahun lalu. Namun sebenarnya sejak kecil dia sudah merasa ada masalah di tubuhnya. Sebab saat kecil dia kerap kali merasa lelalh, sehingga orang-orang menganggapnya sebagai anak yang malas dan bodoh.
Saat remaja, ketika teman-teman seusianya menghabiskan liburan musim panas dengan pergi ke pesta atau hang out bersama, Helen malah menghabiskan waktu enam minggunya untuk tidur dan istrirahat. Dia hanya bangun untuk makan, minum, atau ke toilet.
"Saya tahu saat itu ada sesuatu yang tidak beres dengan saya, tapi tak ada yang tahu tentang Sindrom Putri Tidur pada 1980-an. Mereka hanya menyebutnya 'melamun'," sambung Helen.
Dengan kondisi yang mudah lelah dan mengantuk, Helen harus berjuang ekstra keras untuk lulus dan kuliah dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun pada Februari 2009, dia terserang flu yang kemudian menyebabkan dia tidur selama berminggu-minggu. Helen kemudian menjalani berbagai tes kesehatan dan didiagnosis mengalami depresi. Resep antidepresan pun harus diambilnya.
Setahun kemudian, Helen didiagnosis Sindrom Putri Tidur. Sebab dalam tes, Helen langsung tidur nyenyak dalam waktu di bawah lima menit. Dokter mengatakan Helen bisa menggunakan obat untuk mengontrol tidur panjangnya, namun kondisinya akan memburuk. Sebab efek samping obat yang dikonsumsinya adalah munculnya koordinasi gerak yang buruk, nyeri otot yang ekstrem, serta wajah yang berkedut dan melasma.
Meski terbiasa menghadapi segala sesuatu sendiri, namun di lubuk hatinya dia ingin sekali memiliki pasangan. Seseorang yang bisa menjadi sahabat terbaik dalam menjalani sisa hidup. Namun dengan kondisinya, Helen mencoba untuk realistis.
"Saya telah menerima menjadi seperti ini. Sebab saya sudah biasa sendiri dalam kondisi seperti ini dan sepanjang hidup saya," ucapnya.
(vit/up)











































