Makan Burger Bikin Rahang 'Meleset' Karena Sindrom Sendi Mudah Lepas

Makan Burger Bikin Rahang 'Meleset' Karena Sindrom Sendi Mudah Lepas

- detikHealth
Kamis, 04 Des 2014 13:32 WIB
Makan Burger Bikin Rahang Meleset Karena Sindrom Sendi Mudah Lepas
Nicola Lynch
Kent, Inggris - Bagi Nicola Lynch, makan burger tidaklah semenyenangkan kelihatannya. Terakhir kali saat ia 'nekat' melakukannya, Nicola justru harus dilarikan ke rumah sakit. Ada apa gerangan?

Ternyata gadis berumur 18 tahun itu menderita kondisi yang disebut dengan sindrom hipermobilitas. Artinya sendi-sendi di tubuh Nicola bisa lepas atau bergeser dengan sendirinya, tanpa peringatan ataupun gejala khusus.

Tak heran, ketika terakhir kali Nicola makan burger waktu itu, ia harus dibawa ke rumah sakit karena rahangnya bergeser dari tempatnya semula.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan bukan sekali ini saja. Sejak enam tahun lalu, saat Nicola pertama kali didiagnosis dokter dengan sindrom ini, bahunya sudah terlepas dari sambungan sebanyak 80 kali. Disusul oleh kedua ibu jarinya. Nicola mencatat masing-masing ibu jari tersebut pernah 'keluar' dari posisi awalnya sebanyak 25 kali.

Begitu juga dengan pinggul Nicola. Ia mencatat pergeseran pinggulnya bisa mencapai 50 kali sejak pertama didiagnosis, sedangkan sambungan di pergelangan kaki Nicola rutin terlepas setiap tiga kali seminggu. Bila ditotal kira-kira Nicola telah merasakan sendinya bergeser hingga 250 kali dalam kurun enam tahun terakhir.

"Kejadian pertama yang saya alami adalah jempol saya bergeser. Waktu itu kira-kira umur saya masih 12 tahun. Saya sedang bercanda dengan teman saya, tahu-tahu jempol saya bergeser begitu saja. Dan rasa sakitnya tak tertahankan," papar Nicola seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (3/12/2014).

Setelah dokter memasangkan gips pada jempolnya, beberapa hari kemudian, jempol Nicola yang lain ikut bergeser. Dan ini berlanjut ke bahu, pinggul, rahang, dst. "Ini mengerikan, saya seperti manusia yang bisa dibongkar pasang," imbuhnya.

Karena nyeri yang menyertai tersebut, akibatnya gadis malang ini tak bisa bekerja dan terus hidup dalam ketakutan, karena ia tak pernah tahu sendi mana yang akan bergeser saat itu.

Nicola hampir tak bisa melakukan apapun seorang diri. Kegiatan harian seperti makan saja ia harus dibantu. Namun Nicola pantang menyerah karena ia ingin tetap hidup normal, dan yang membuatnya tak mau menyerah adalah dukungan penuh dari keluarga dan tunangannya, Stephan.

"Saya tahu dibandingkan dengan pasien hipermobilitas yang lain, saya lebih parah, apalagi karena ini sampai menimbulkan nyeri. Tapi saya berharap bisa segera dioperasi lagi karena seiring dengan bertambahnya usia, saya butuh lebih banyak operasi untuk menggantikan sendi ini," katanya.

Sebelumnya Nicola telah menjalani sejumlah operasi untuk memperbaiki tendon dan ligamen di kedua tangannya. Namun tampaknya operasi ini tidak begitu membuahkan hasil karena bagian sendi Nicola yang lain masih sering bergeser. "Dulu tangan, sekarang yang sering rapuh adalah rahang, juga pinggul saya," keluhnya.

Sindrom hipermobilitas sendiri diduga disebabkan oleh kurangnya kolagen dalam kulit dan jaringan tubuh seseorang, sehingga jaringan tubuhnya menjadi rapuh, sendinya juga longgar dan mudah lepas.

(lil/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads