Sehari-harinya, bocah lima tahun ini harus menenggak 10 butir obat yang oleh sang ibu disembunyikan dalam yoghurt. Dikatakan orang tua Chelsea, Mel dan Trent, putrinya mengidap kelainan langka yang memang hanya terjadi pada anak perempuan.
"Dokter mengingatkan kami untuk tak terlalu berharap Chelsea bisa melewati masa remajanya. Kini, saat sedang tidur pulas ia bisa kejang. Kepanasan serta suara motor atau saudaranya yang berisik saja bisa membuat dia kaget lalu kejang-kejang," kisah Mel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah dicek ke dokter, otak Chelsea dinyatakan tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Selain itu, ia didiagnosis dislapsia kortikal dan epilepsi. Saat berusia 11 bulan, Chelsea dinyatakan mengidap cerebral palsy dan aicardi syndrome. Akibatnya, kini Chelsea harus menggunakan kursi roda atau tongkat untuk berjalan.
"Di kamar tidurnya kami memasang alarm yang akan berbunyi ketika ia kejang. Sekarang dia mulai belajar berjalan dengan sepatu boots khusus dan berkomunikasi dengan bantuan alat khusus," lanjut Mel dikutip dari situs Chance For Chelsea, Senin (8/12/2014).
Diakui Mel, putrinya tak ubah seperti anak berusia 9 bulan. Meski begitu, gadis cilik yang sangat suka dengan sesuatu yang berputar ini diakui Mel amat gigih menghadapi kondisinya. Dalam setahun, Mel dan Trent harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 360 juta untuk pengobatan, popok, dan alat-alat khusus Chelsea.
"Kami berharap bisa membuat rumah kami aman dan mudah diakses oleh Chelsea agar ia bisa ikut dalam aktivitas keluarga. Selain itu, kami juga tak segan untuk berbagi dan mensupport keluarga di luar sana yang memiliki anak dengan kondisi sama seperti Chelsea," kata Mel.
(rdn/vit)











































