Peristiwa itu terjadi pada natal tahun 2003 di mana sebelum kelulusannya, Emma tiba-tiba tidak sadarkan diri dan didagnosis stroke meskipun ia sehat-sehat saja dan tidak memiliki riwayat keluarga dengan stroke. Namun, dokter mengatakan bahwa Emma tak akan bisa lagi bicara, makan, berjalan, dan minum.
Tak ayal, stroke yang dialaminya membuat kepala Emma harus dibotaki, ditambah dengan wajah yang membengkak karena efek pengobatan. Berusaha tersenyum pada orang yang membesuknya, sang ibu memberi tahu Emma bahwa ia tak bisa menggerakkan wajahnya dan terlihat hanya memandangi orang di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mau ambil pusing dengan usianya yang paling muda, Emaa tetap gentar menjalani terapi. Dua bulan kemudian, ia mulai bisa berjalan meski belum stabil, tersenyum, dan berkomunikasi. Karena bagian kanan tubuhnya lumpuh, Emma berlatih melakukan aktivitas seperti menulis dan mengaitkan bra dengan tangan kiri.
Enam bulan setelah itu, ia masuk ke salah satu sekolah seni. Didampingi sang ibu, Emma berusaha menyembunyikan kondisi tubuhnya dengan berpenampilan modis. Saat ditanya mengapa ia harus berjalan dengan tongkat, Emma mengaku dirinya mengalami kecelakana saat bermain ski. Celana dengan potongan pinggang tinggi dilengkapi saku menjadi andalan Emma untuk menyembunyikan penjepit di kakinya.
"Sampai di usia 21 tahun saya menyembunyikan kondisi saya yang sebenarnya. Setelah itu saya berusaha traveling ke Nepal tapi kondisi saya saat itu ternyata sangat lemah. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjalani 4-5 kali operasi di pergelangan kaki selama seminggu. Pelat logam juga dipasang di lengan dan jari saya," tambah Emma.
Usai menjalani operasi, ia kembali berkuliah untuk bisa mencapai gelar diplomanya. Waktu berjalan dan tidak terasa Emma sudah menyembunyikan kondisi tubuhnya selama 10 tahun. Hingga di bulan April lalu, seorang teman mengatakan bahwa dirinya tak perlu menutupi kondisinya. Ia pun memberanikan diri menulis blog untuk berbagi pengalaman.
Tak diduga, respons para pembaca sangat positif. Oleh karena itu, Emma yang kini juga mendirikan bisnis kecil-kecilan ikut bergabung dengan National Stroke Foundation untuk memberi dukungan dan berbagai dengan pasien kanker agar mereka tetap optimistis menjalani kesehariannya.
"Selama ini saya menyembunyikan kekurangan saya. Padahal sebenarnya saya istimewa karena dengan kondisi tubuh tak biasa, saya tetap bisa mencapai cita-cita saya. Saya berharap kisah yang saya bagikan dan support yang saya berikan bisa membuat para pasien stroke yang lumpuh lebih bersemangat lagi," harap Emma dalam blognya onegirlandthesea, dan dikutip pada Senin (8/12/2014).
Untuk tetap semangat mencapai cita-cita meski dalam kondisi tubuh tidak sempurna, Emma mempunyai beberapa tips. Terimalah kondisi Anda dan mintalah suopprt dari orang terdekat. Kemudian, buat tujuan dalam hidup Anda meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama. Jangan lupa untuk menjadi bangga dengan apa yang sudah Anda dapatkan.
(rdn/vit)











































