Kisah Inspiratif Tony, Sempat Buta Hingga Jadi 'Terapis' Lewat Lukisan

True Story

Kisah Inspiratif Tony, Sempat Buta Hingga Jadi 'Terapis' Lewat Lukisan

- detikHealth
Kamis, 18 Des 2014 13:01 WIB
Kisah Inspiratif Tony, Sempat Buta Hingga Jadi Terapis Lewat Lukisan
Foto: Reza/detikHealth
Bandung - Sibuk keliling Indonesia untuk menghasilkan karya seni membuat Tony DS kurang memperhatikan kesehatannya. Tak ayal, Tony pun sempat mengalami kebutaan akibat katarak yang tak terobati.

Kakek berusia 70 tahun itu pun merasa lemah. Sebagai seniman yang doyan melukis, karyanya tentu saja hanya dapat dinikmati lewat sensasi visual. Jika sang seniman tak bisa melihat, bagaimana bisa menghasilkan lukisan yang bagus?

"Saya sempat pasrah waktu itu. Tahun 2004 penglihatan mulai berkurang akhirnya beberapa tahun kemudian penglihatan saya hilang. Dokter mengatakan saya terkena katarak," urai Tony mengawali perbincangan, ditemui di RS Mata Cicendo, Jl Raya Cicendo, Bandung, Jawa Barat, dan ditulis Kamis (18/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala itu, Tony tak tahu bahwa katarak adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Ia pun hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa kegiatan karena sudah tak mampu melukis. Keluarga yang prihatin akhirnya mencoba mengajak Tony untuk berobat.

Sampailah Tony ke RS Mata Cicendo, Pusat Rujukan Mata Nasional yang ada di Bandung. Setelah beberapa kali melakukan pengobatan, ia akhirnya melihat secercah harapan di mana penglihatannya dapat kembali normal.

"Waktu itu saya bernazar, kalau penglihatan saya bisa kembali, saya akan membantu orang-orang lain yang seperti saya, bagaimanapun caranya," ungkapnya lagi.

Setelah menjalani terapi, ia pun akhirnya dioperasi. Operasi sukses dan penglihatannya kembali normal. Tak ingin ingkar janji karena sudah bernazar, ia pun meminta tolong kepada pihak RS Cicendo untuk dapat membantu memberika terapi pada pasien lewat seni lukis.

Pihak RS pun setuju. Tony diberikan ruang di dekat pintu masuk Paviliun RS Mata Cicendo untuk berkarya. Di situ, Tony mengajak para pasien yang akan menjalani operasi untuk berekspresi lewat lukisan agar lebih rileks dan tenang.

"Jadi saya memberikan terapi kepada mereka. Saya juga tahu dulu bagaimana rasanya mau operasi, takut dan tegang. Nah saya ajak mereka untuk berekspresi lewat seni, lewat lukisan. Daripada pusing-pusing, takut dan tegang, coba aja mereka melukis, jadinya kan lebih tenang," tutur kakek berambut putih tersebut.

Tak dibayar, Tony juga tak mengambil keuntungan dari semua lukisan hasil karyanya bersama pasien-pasien RS Cicendo. Lukisan-lukisan tersebut memang dijual, namun hasilnya disumbangkan untuk bakti sosial kepada pasien kurang mampu atau penyandang tunanetra.

Tony yang masih sibuk mengoleskan kuas di atas kanvas ini berharap agar para pasien kebutaan akibat katarak tak patah semangat menjalani hidup. Asal berserah diri pada Tuhan dan tetap menjalankan pengobatan, ia yakin bahwa penglihatan pasien dapat kembali normal.

"Jangan patah semangatlah kalau katarak. Bisa diobati, bisa dioperasi. Kalau takut operasi, datang sini ke saya. Kita melukis bareng-bareng, biar rileks," ungkap Tony sembari tertawa.

(mrs/vit)

Berita Terkait