Kakek berusia 70 tahun itu pun merasa lemah. Sebagai seniman yang doyan melukis, karyanya tentu saja hanya dapat dinikmati lewat sensasi visual. Jika sang seniman tak bisa melihat, bagaimana bisa menghasilkan lukisan yang bagus?
"Saya sempat pasrah waktu itu. Tahun 2004 penglihatan mulai berkurang akhirnya beberapa tahun kemudian penglihatan saya hilang. Dokter mengatakan saya terkena katarak," urai Tony mengawali perbincangan, ditemui di RS Mata Cicendo, Jl Raya Cicendo, Bandung, Jawa Barat, dan ditulis Kamis (18/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampailah Tony ke RS Mata Cicendo, Pusat Rujukan Mata Nasional yang ada di Bandung. Setelah beberapa kali melakukan pengobatan, ia akhirnya melihat secercah harapan di mana penglihatannya dapat kembali normal.
"Waktu itu saya bernazar, kalau penglihatan saya bisa kembali, saya akan membantu orang-orang lain yang seperti saya, bagaimanapun caranya," ungkapnya lagi.
Setelah menjalani terapi, ia pun akhirnya dioperasi. Operasi sukses dan penglihatannya kembali normal. Tak ingin ingkar janji karena sudah bernazar, ia pun meminta tolong kepada pihak RS Cicendo untuk dapat membantu memberika terapi pada pasien lewat seni lukis.
Pihak RS pun setuju. Tony diberikan ruang di dekat pintu masuk Paviliun RS Mata Cicendo untuk berkarya. Di situ, Tony mengajak para pasien yang akan menjalani operasi untuk berekspresi lewat lukisan agar lebih rileks dan tenang.
"Jadi saya memberikan terapi kepada mereka. Saya juga tahu dulu bagaimana rasanya mau operasi, takut dan tegang. Nah saya ajak mereka untuk berekspresi lewat seni, lewat lukisan. Daripada pusing-pusing, takut dan tegang, coba aja mereka melukis, jadinya kan lebih tenang," tutur kakek berambut putih tersebut.
Tak dibayar, Tony juga tak mengambil keuntungan dari semua lukisan hasil karyanya bersama pasien-pasien RS Cicendo. Lukisan-lukisan tersebut memang dijual, namun hasilnya disumbangkan untuk bakti sosial kepada pasien kurang mampu atau penyandang tunanetra.
Tony yang masih sibuk mengoleskan kuas di atas kanvas ini berharap agar para pasien kebutaan akibat katarak tak patah semangat menjalani hidup. Asal berserah diri pada Tuhan dan tetap menjalankan pengobatan, ia yakin bahwa penglihatan pasien dapat kembali normal.
"Jangan patah semangatlah kalau katarak. Bisa diobati, bisa dioperasi. Kalau takut operasi, datang sini ke saya. Kita melukis bareng-bareng, biar rileks," ungkap Tony sembari tertawa.
(mrs/vit)











































