Apalagi, kini Toni tengah mengandung anak pertama mereka yang berasal dari donor sperma. Dikisahkan Sean, ketika masih remaja ia selalu ingin menjadi pria. Sang ibu, Heather (51) menganggap putrinya hanya tomboi saja. Di usia 15 tahun, Sean pertama kali bertemu dengan Toni.
Baca juga: Bukan Kecewa, Hannah Justru Dukung Pacarnya yang Ingin Berubah Jadi Wanita
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tepat di usia 16 tahun, Sean mengutarakan keinginannya kepada sang ibu. Heather pun kala itu hanya bisa mendukung kemauan putrinya. Kemudian, Sean mulai menjalani mastektomi dan operasi pada organ vitalnya. Ia juga dibawa ke London’s Gender Identity Clinic.
Di sana, Sean berkonsultasi dengan dokter bedah dan psikiater guna memastikan lagi bahwa ia memang ingin menjadi pria. Tepat di usia 20 tahun, Sean mulai menjalani terapi hormon. Beberapa waktu kemudian, ia bertemu kembali dengan Toni setelah sempat tidak berhubungan selama beberapa waktu.
Melihat perubahan pada Sean, Toni mengaku jatuh cinta pada mantan sahabat perempuannya itu. Melihat rambut cepak dan suara yang besar khas lelaki membuat Toni terpana pada Sean. Meski sempat kikuk di awal, lama-lama Toni mulai terbiasa berhubungan dengan Sean.
Baca juga: Bukan Ganti Kelamin, Pria ini Punya Rahim Karena Kondisi Langka
"Setelah itu kami memutuskan untuk membina rumah tangga. Sebelumnya, saya sempat menjalani program bayi tabung tiga kali tetapi gagal karena saat itu ayah Sean sangat ingin punya cucu. Tapi setelah didiagnosis kanker, ayah Sean meninggal, padahal ia belum sempat mewujudkan keinginannya," kisah Toni.
Walaupun begitu, kini Toni dan Sean bahagia karena mereka akan menantikan kelahiran bayinya dalam waktu dekat. Sebelum anak mereka lahir, Sean dan Toni akan menyelenggarakan pesta pernikahan dengan biaya kurang lebih Rp 235 juta. "Kami sangat senang dan tidak sabar menantikan hari bahagia itu," ujar Sean.
(rdn/vit)











































