Namun, suami Jenny, John bersikeras untuk memberi waktu bagi istrinya agar pulih. Benar saja, ternyata selama Jenny didiagnosis mengalami mati otak, ia masih bisa mendengar percakapan orang di sekitarnya termasuk ketika dokter ingin mematikan mesin pendukung hidupnya.
"Saat dokter mengatakan hal itu, saya pikir itu terlalu cepat untuk membiarkan istri saya tidak mendapat kesempatan untuk pulih. Saya pun duduk di samping Jenny dan menggenggam tangannya lalu benar saja, ia mulai menunjukkan bahwa kondisinya akan membaik," kisah John.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: 'Terapi Cerita' Bisa Bantu Pasien Koma Sadar Lebih Cepat
Kesemutan parah dan nyeri menyerang sebagian besar badan Jenny, terutama bagian kaki. Sindrom ini juga membuat ia tidak bisa merasakan sakit hingga dokter harus melakukan beberapa tes laboratorium dan pemeriksaan otak hingga akhirnya Jenny berada dalam keadaan koma selama 10 hari.
"Selama saya koma, saya tahu apa yang dibicarakan orang lain. Maka dari itu, saya senang John menggunakan feelingnya untuk tidak gegabah mencabut mesin pendukung hidup saya," kata Jenny, dikutip dari Mirror, Rabu (18/3/2015).
Dua bulan setelah bebas dari koma, kondisi Jenny mulai pulih dan di bulan Juni 2014 ia diperbolehkan pulang meskipun saat itu, Jenny masih harus menggunakan alat bantu berjalan. Rasa sakit juga masih dialami Jenny terutama di bagian kakinya.
Kini, Jenny sudah bisa beraktivitas kembali ke kantor bahkan mengikuti ajang lari 5 km untuk galang dana. Gill Ellis, support officer Guillain-Barre syndrome charity Gain mengatakan jika kondisi ini tidak memengaruhi otak pasien. Apalagi, pasien memiliki kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Baca juga: Mati Otak, Ibu Hamil di Irlandia Diizinkan Pengadilan Untuk Meninggal
"Di situlah pasien seringnya akan frustasi. Guillein-Barre adalah kondisi serius di mana sistem kekebalan tubuh menyerang bagian dari sistem saraf. Sindrom ini biasanya diawali dengan infeksi kecil seperti pilek, kemudian baru menyerang sistem saraf perifer dan jaringan saraf di luar sistem saraf pusat," terang Ellis. (Radian Nyi Sukmasari/Nurvita Indarini)











































