Sejak lahir, Girija mengalami congenital agenesis di mana tubuhnya gagal berkembang sepenuhnya. Ukuran kepala gadis ini juga lebih besar ketimbang tubuhnya hingga ia kesulitan berdiri. Dokter bahkan mengatakan Girija bisa berisiko mengalami patah tulang jika ia berusaha memutar lehernya dengan tidak hati-hati.
Meski untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, seperti makan Girija harus dibantu sang ibu, ia tidak ingin tinggal diam. Girija pun melakukan hobinya yakni menggambar dan melukis. Dalam sebulan dia bisa menjual 5-6 lukisan dengan harga masing-masing Rp 17-22 ribu. Uang itu ia gunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menghadapi kesulitan ini sejak awal. Saat lahir, Girija tidak seperti bayi lainnya. Ketika dokter mengatakan kondisinya permanen, hati kami sangat hancur. Sebagai orang tua, kami juga khawatir bagaimana dengan masa depan dia," tutur ibu Girija, Nanda Baayi.
Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (8/4/2015), Girija mengaku ingin dikenal bukan karena kondisinya yang langka, tetapi karena prestasi seninya. "Saya tidak ingin simpati, saya ingin pengakuan," ujar Girija.
Dalam keseharian, layaknya remaja lain, jika tidak melukis, Girija akan menonton TV, bermain bersama hewan peliharaannya, atau bersosialisasi dengan teman dan tetangganya. Apalagi, masyarakat sekitar tidak pernah mengolok-olok Girija dan tidak pernah memperlakukannya seperti balita.
Meski pendapatan ayah Girija mencapai Rp 96 ribu sehari, tetapi masih terasa sulit bagi keluarga mereka untuk mengobati kondisi anak gadisnya itu. Walaupun begitu, Nanda menegaskan ia tetap akan mendukung putrinya untuk bisa hidup mandiri di kemudian hari.
Baca juga: Tak Pernah Tua, Gadis 17 Tahun Terjebak dalam Tubuh Balita
(rdn/vit)











































