Sekilas tak ada yang istimewa dengannya. Tubuhnya kecil, agak hitam dan kurus. Usianya juga tak lagi muda. Yang menonjol hanyalah baju yang ia kenakan setiap hari, semacam seragam ala petugas kebersihan berwarna jingga. Di baju ini juga tertulis nomor ponsel pria ini berikut nama aliasnya: 'Hello, I am Medicine Baba'.
Nama aslinya adalah Omkarnath. Delapan tahun belakangan ia sibuk berkeliling New Delhi untuk mengumpulkan obat-obat resep yang sudah tak terpakai. Yang ia datangi adalah pemukiman orang kaya atau klinik swasta di penjuru New Delhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Segera Buang Obat Anda Jika Temukan Ciri-ciri Begini pada Obat
Dengan kaki sedikit pincang, ia berpindah dari satu bis ke bis lain serta berjalan kaki dan mengetuk satu-persatu pintu rumah yang ia lewati untuk meminta obat. Setelah disortir, obat-obatan ini ia antarkan ke 12 klinik milik yayasan amal dan dua rumah sakit milik pemerintah. Dalam sehari rata-rata ia bisa berjalan kaki hingga 7 km jauhnya.
Uniknya, Omkarnath tak memiliki pengetahuan tentang obat-obatan. Kegiatan ini murni ia lakukan atas dasar kemanusiaan. Delapan tahun lalu, ia tergerak memulai misi ini setelah melihat sejumlah pekerja konstruksi yang mengalami cedera berat namun ditolak dirawat di rumah sakit milik pemerintah. Fakta ini mendorongnya melakukan sesuatu agar kejadian yang sama tak terulang kembali.
"Saya berpikir, mengapa tidak mengumpulkan obat-obatan untuk warga miskin? Saya kira belum pernah ada yang melakukannya," katanya.
Untuk menyimpan obat-obatan itu, Omkarnath lantas menyewa sebuah ruangan kecil di samping rumahnya yang berada di tengah pemukiman kumuh di Manglapuri, New Delhi. Ruangan itu ia sulap menjadi semacam apotek yang menyimpan berbagai obat seperti obat flu, suntikan insulin hingga obat kanker bernilai ribuan dollar AS.
Ini belum termasuk sumbangan peralatan medis dari berbagai instansi seperti kasur rumah sakit, tabung oksigen, nebulizer, kursi roda, kruk, hingga mesin oksigen. Meski tak memahami obat-obatan sama sekali, Omkarnath dapat mendistribusikan obat yang telah ia kumpulkan kepada mereka yang membutuhkan. Ia hanya perlu membaca resep obat mereka.
Yang tak kalah mengesankan, Omkarnath tak pernah mematok harga untuk setiap obat yang ia berikan. "Saya awalnya tak percaya dengan obat-obat yang ia kumpulkan, tetapi ketika ia membawanya, saya periksa nomor batch-nya, semuanya masih bagus dan tidak kadaluwarsa ataupun palsu," tutur Dr Lalima Rangwani, salah satu dokter yang ikut membantu mendistribusikan obat yang dikumpulkan pria 79 tahun ini.
Ironisnya, Omkarnath sendiri bukanlah orang yang berkecukupan. Ia hanya bisa menggantungkan hidupnya dari sumbangan donatur, yang bila dirata-rata hanya sebesar 500 dollar AS perbulan. Padahal demi mengumpulkan obat-obatan itu, pria yang dulunya bekerja di bank darah tersebut harus merogoh kocek pribadinya sebesar 9.000 dollar AS untuk setiap bulan.
"Ini bukan apa-apa, tapi saya berharap sebelum saya mati, akan ada gerakan yang lebih besar dari ini," pungkasnya.
Baca juga: Ini Caranya Agar Terhindar dari Obat Palsu dan Kedaluwarsa
Sekitar 40 persen masyarakat India tak memperoleh akses obat yang memadai. Penyebabnya beragam, bisa karena harganya yang terlalu mahal atau karena stok di rumah sakit pemerintah yang terbatas. Padahal India sendiri merupakan salah satu pengekspor obat-obatan terbesar di dunia.
(lll/up)










































