Di usia kehamilan 26 minggu, ibu Aiden, Charmaine sempat disarankan untuk menggugurkan kandungannya. Gara-garanya, saat itu perut Aiden tak terlihat di mesin USG. Dokter lantas menyarankan Charmaine untuk mengaborsi sang buah hati.
"Saya merasa kehamilan saya baik-baik saja. Tak ada gejala yang aneh. Ia juga menendang saya, jadi saya tahu ia hidup. Saya menolak tawaran itu," tegas Charmaine.
Aiden lahir pada usia kehamilan 38 minggu. Saat itu juga bayi laki-laki Charmaine itu didiagnosis mengalami 'hypoplastic left heart syndrome' di mana jantung kirinya hanya terbentuk sebagian. Meski Aiden memiliki perut, dokter mengungkapkan jika Aiden juga mengalami 'right atrial isomerism' atau serangkaian cacat jantung lahir seperti lubang pada jantung atau gangguan katup jantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Selama 6 Tahun Bocah Ini Hidup dengan Jantung Berlubang
Sejak saat itu, Aiden bertahan dengan paru-paru yang dibungkus sedemikian rupa agar tidak menekan jantungnya. Dalam beberapa tahun, dokter memasang kateter khusus ke jantung dan pembuluh darah Aiden agar lebih mudah dipantau.
Hingga akhirnya kondisi Aiden memburuk pada bulan September tahun lalu, dan ia harus dioperasi untuk memperbaiki sirkulasi darahnya. Sayangnya upaya ini tak membuahkan hasil, sehingga Aiden harus 'disambungkan' dengan mesin ECMO. Mesin ini berfungsi menggantikan kinerja darahnya, yaitu mengeluarkan karbon dioksida dan menggantinya dengan oksigen.
Tetapi bukannya lancar, peredaran darah Aiden justru berhenti dan memicu masalah baru. Meski menghabiskan waktu selama 16 hari untuk menjalani perawatan intensif, Aiden tetap tidak juga pulih. Ternyata akar permasalahan pada ginjal Aiden yang tidak bekerja.
"Dari hasil scan juga terlihat ternyata terjadi stroke. Beberapa bulan kemudian, masalah baru muncul lagi karena perutnya terisi cairan, yang dipicu oleh kegagalan fungsi jantungnya. Meski dikeringkan, itu juga tak berarti apa-apa," ungkap Charmaine.
Ketika coba dipulihkan, Aiden malah mengalami gagal jantung, dan sempat tak sadarkan diri. 15 menit berlalu, barulah Aiden dipasangkan lagi ke mesin ECMO. "Saat itu tubuhnya sudah membiru dan ia sudah tak berdaya dalam pelukan saya, tapi entah bagaimana caranya ia bertahan," tutur Charmaine seperti dikutip dari lincolnshireecho.co.uk, Minggu (23/8/2015).
Di samping bolak-balik ke rumah sakit, Aiden juga bertahan hidup dengan meminum delapan jenis obat yang berbeda setiap paginya.
Meski tim dokter berupaya agar Aiden mendapatkan transplantasi jantung, keluarga tak mau berharap banyak. Charmaine mengatakan ia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersama Aiden.
Baca juga: Minum Antidepresan Saat Hamil Tingkatkan Risiko Cacat Jantung Bawaan Bayi?
"Saya tak tahu sampai kapan kami bisa bersamanya, jadi saya ingin memastikan semua keinginan dan cita-citanya menjadi kenyataan," tutup Charmaine.
Baru-baru ini Aiden diajak untuk ambil bagian dalam sebuah upaya penggalangan dana bagi anak-anak dengan penyakit jantung sepertinya. Tahu bahwa gulat merupakan olahraga kesukaan Aiden, penyelenggara even bahkan juga mendatangkan sejumlah pegulat untuk menunjukkan dukungannya.
Dalam acara tersebut, Aiden diperkenankan bertarung dengan seorang pegulat dan berhasil 'mengalahkannya'. "Saya tak menyangka mereka memperbolehkan Aiden naik ke ring, bahkan mengalah untuk Aiden," kata Charmaine.
Karena menang, Aiden pun mendapatkan sabuk juaranya sendiri. Charmaine mengaku terharu melihat putranya bisa mengangkat sabuk itu ke udara dan tersenyum riang. (lll/up)











































