Sang ibu, Felicitas Maria, berkisah hari itu apes bagi Orlando. Ada seekor laba-laba yang tiba-tiba jatuh di atas tubuhnya dan menggigit kuping kirinya.
Hanya dalam hitungan menit, kondisi Orlando langsung drop dan keluarga terpaksa melarikannya ke klinik terdekat untuk diberi penawar.
Namun bukannya sembuh, Orlando malah memburuk. Dari situlah tim dokter Honorio Delgado Espinoza Hospital di Arequipa, Peru menyimpulkan bahwa pria berumur 31 tahun ini tidak digigit laba-laba biasa.
Baca juga: Ibu Sebut Anaknya Tewas Digigit Laba-laba Padahal Karena Dianiaya
Rupanya ia digigit oleh laba-laba 'Chilean Recluse'. Konon ia adalah salah satu jenis laba-laba paling mematikan di muka bumi. Racunnya memang dapat menimbulkan reaksi alergi yang parah, bahkan kematian.
Selain mengalami gagal ginjal dan liver, racun dari laba-laba tersebut juga mengakibatkan mata dan telinga Orlando membusuk. Demikian seperti dikutip dari news.com.au, Selasa (13/10/2015).
Orlando kini sedang menjalani perawatan intensif. Namun karena kekurangan biaya, orang tua Orlando membuat laman Facebook bertajuk 'Help Chamo' untuk menggalang dana. Chamo sendiri adalah nama kecil Orlando.
Hal ini terpaksa mereka lakukan mengingat dalam sehari saja mereka harus mengeluarkan dana sebesar 700 peruvian nuevo atau setara dengan 300 dollar AS (Rp 4,04 juta) agar Orlando bisa tetap hidup. Biaya ini sudah termasuk untuk prosedur dialisis atau cuci darah, transfusi dan pengobatan lainnya
Baca juga: Efek Digigit Laba-laba: Badan Lumpuh hingga Kaki Terancam Diamputasi
Sesuai dengan namanya, laba-laba Chilean Recluse dapat ditemukan di sejumlah negara di Amerika Selatan seperti Peru, Chili, Ekuador, Argentina, Uruguay dan Brazil. (lll/up)










































