Heidi lantas berkonsultasi ke dokter. Kala itu, ia diberi antibiotik meskipun dokter sempat curiga Heidi terkena kanker payudara. Tapi, Heidi sempat mengatakan mustahil ia terkena kanker payudara karena di keluarganya tak ada riwayat kanker payudara. Ia juga menjalani pola hidup sehat termasuk tidak merokok dan mengonsumsi alkohol.
"Tapi di bulan Juli, saya panik karena puting saya melesak ke dalam dan kulit di sekitar puting seperti kulit jeruk. Saya pun diminta menjalani biopsi. Sesampai di rumah saya mencari tahu di internet dan gejala saya merujuk pada pembengkakan kanker payudara yang langka dan agresif," tutur Heidi, dikutip dari Express, Rabu (11/11/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar saja, di bulan September lalu, dalam keadaan hamil tiga bulan, Heidi didiagnosis kanker payudara. Dokter sempat menyarankan Heidi menggugurkan kandungannya sehingga sesudahnya pengobatan kanker bisa dilakukan. Tapi, Heidi tak yakin kondisinya akan membaik.
Diakui Heidi, kala itu ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Di sisi lain ia harus mengobati penyakitnya, tapi di lain pihak ia ingin mempertahankan bayinya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Heidi memilih mempertahankan bayinya.
"Saya harus mengonsumsi obat hormonal untuk membantu mengatasi kanker selama kehamilan saya. Kemoterapi juga saya jalani dengan dosis lebih rendah sampai saya melahirkan di mana saya tidak tahu sudah seberapa parah penyakit saya nantinya," kata Heidi.
Namun, Heidi yakin bagaimanapun kondisi akhirnya nanti, ia sudah membuat keputusan tepat dengan mempertahankan anak keduanya. "Saya hanya ingin melihat anak saya bisa hadir di dunia ini dengan sehat dan selamat meski nyawa saya bisa saja jadi taruhannya," pungkas Heidi.
Baca juga: Makin Banyak Wanita Terdeteksi Kanker Saat Hamil
(rdn/up)











































