Oleh dokter, Elin diberi resep obat jerawat bernama Roaccutane. Roaccutane sebelumnya dikenal sebagai 'obat ajaib' karena ia kerap dijadikan solusi terakhir untuk mengatasi jerawat, terutama bila pengobatan lain tidak mempan.
Namun keanehan mulai terjadi setelah dokter memutuskan menambah dosis Roaccutane untuk Elin. Dari yang semula hanya 30 mg menjadi 70 mg per hari hanya dalam waktu lima bulan setelah pengobatan pertama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua hari selepas dosisnya ditambah, Elin pulang sekolah lebih awal karena mengeluh nyeri perut hebat. Awalnya dikira batu ginjal, Elin hanya diberi obat penghilang nyeri. Namun karena Elin memuntahkan cairan hitam setelahnya, remaja ini segera dirujuk ke Alder Hey Children's Hospital.
Keesokan harinya, tubuh Elin sampai mengalami shock dan harus diresusitasi. Setelah tiga minggu di Alder Hey, ia lantas dipindahkan ke Royal Liverpool University Hospital untuk operasi karena ia mengalami pankreatitis akut, yang disebut necrotising pancreatitis.
Di usianya yang baru 15 tahun itu, ia pun menjadi pasien pertama yang harus dioperasi akibat necrotising pancreatitis di rumah sakit tersebut.
Baca juga: Waduh! Obat Jerawat dari Dokter Bikin Wanita Ini Setengah Buta
Meski demikian, bisa dikatakan nasib buruk terlanjur menimpa Elin. Sebab ia telah kehilangan 92 persen pankreasnya, hingga tinggal tersisa kulit penutupnya saja. Tim dokter pada akhirnya harus memasang dua selang ke dalam pankreas siswa Llangefni High School itu: satu untuk mengangkat sebagian pankreas Elin yang mati, dan satu lagi untuk menjaganya tetap bertahan.
"Kini Elin menjadi diabetesi karena tubuhnya tak dapat menghasilkan insulin sendiri. Ia bahkan nyaris sekarat sampai enam kali," ungkap sang ibu, Denise seperti dikutip dari Daily Wales Post, Jumat (27/11/2015).
Elin juga harus minum enam tablet sekaligus di jam makan, bahkan untuk seumur hidupnya karena pankreasnya tak lagi bisa memproduksi enzim-enzim yang dibutuhkan dalam sistem pencernaan. Dengan kata lain tubuh remaja asal Bodffordd, North Wales itu sudah tak lagi bisa mencerna makanan sendiri.
Ini belum termasuk rambut rontok dan depresi yang dirasakan Elin setelah melalui semua ini. "Yang tak kalah menyedihkan, dokter telah memperingatkan jika mungkin Elin takkan bisa punya anak karena obat itu telah merusak tubuhnya," imbuh Denise.
Kini mereka berharap produsen Roaccutane mau bertanggung jawab atas insiden yang mereka alami. Apalagi Elin merasakan sendiri, obat itu justru tidak menyembuhkan jerawatnya.
Kondisi Elin pun mengundang simpati banyak orang, salah satunya pemilik salon bernama Rebecca Morgan. Rebecca menyumbangkan sebuah wig rambut panjang untuk mengembalikan kepercayaan diri Elin, sembari menunggu rambut gadis itu tumbuh lagi.
Baca juga: Produsen Tak Cantumkan Efek Samping Obat, Nyawa Konsumen Bisa Terancam
Tahun lalu seorang pelaut muda bernama Jessica Eales (17) juga dikabarkan gantung diri karena mengalami depresi. Anehnya, gejala depresi yang diperlihatkan Jessica diduga muncul setelah si blonde ini mengonsumsi obat jerawat dalam enam bulan terakhir sebelum kematiannya, kendati jenis obat yang diberikan kepada Jessica berbeda dengan yang dikonsumsi Elin.
(lll/vit)










































