Awalnya oleh Alisha batuk ini tidak dianggap serius. Namun hingga tiga minggu berturut-turut, batuknya tak kunjung hilang. Alisha pun memutuskan mendatangi dokter dan diberi antibiotik.
"Di waktu yang bersamaan, punggung bawah saya terasa nyeri jika dipakai berbaring. Tapi saya tidak menduga keduanya berkaitan," kisah Alisha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, kondisi Alisha tak kunjung membaik. Lantas pada bulan Desember 2014, ia mengunjungi Royal Brompton Hospital, London untuk menjalani serangkaian tes, seperti echo scan, pet scan, ultrasound, endoskopi, hingga CT scan selama sepekan penuh.
Dari situ ditemukan volume cairan dalam paru-paru Alisha tampak tak biasa. Dalam waktu tiga hari, total ada dua liter cairan yang dikeluarkan dari sana.
"Ternyata itulah yang memicu nyeri pada punggung saya. Dan beberapa hari kemudian, saya dinyatakan terkena kanker paru," tutur Alisha seperti dikutip dari Mirror, Kamis (10/12/2015).
Wanita berumur 28 tahun itu kemudian dirujuk ke seorang ahli kanker bernama Dr Tom Newsom-Davis. Di klinik dokter ini dipastikan bahwa kanker Alisha telah memasuki stadium empat dan tak bisa lagi disembuhkan. Hanya dalam tiga minggu kondisinya makin memburuk. Selain batuk dan nyeri di dada, Alisha juga kehilangan bobot lebih dari 3 kg dan terengah-engah saat berjalan.
Baca juga: Tika, Gadis Manis yang Meninggal Karena Jadi Perokok Pasif
Keadaannya saat ini sungguh berbeda dengan sebelumnya, apalagi Alisha dikenal sebagai pribadi yang bugar, rutin ke gym dan sering bepergian dengan sepeda. Lantas bagaimana mungkin Alisha yang sehat bugar dan tidak pernah merokok ini justru terserang kanker paru?
Dari hasil biopsi ketahuan bahwa kondisi Alisha diakibatkan mutasi pada gen khusus yang disebut dengan ROS1. Kejadian semacam ini tergolong sangat langka, dan diperkirakan hanya terjadi pada kurang dari satu persen pasien kanker paru.
Dr Tom lantas meminta Alisha mencoba obat bernama crizotinib. Meskipun obat ini tidak lazim diberikan pada pasien kanker paru, namun karena kasus Alisha jarang terjadi maka Dr Tom ingin mengujicobakannya pada gadis ini. Namun baru lima bulan memakai obat ini, batuk Alisha kembali muncul.
Kemudian di pertengahan tahun ini, ia akhirnya diarahkan untuk menjalani kemoterapi biasa. Walaupun kinerjanya lambat, kondisi Alisha terbukti membaik, bahkan kankernya mengecil. "Kendati rambut saya rontok dibuatnya, tapi setidaknya obat ini bekerja," tuturnya.
Sang dokter juga kagum kepada sosok Alisha yang tidak pernah sekalipun mengeluh dan selalu terlihat tersenyum. Padahal dengan kondisinya itu, Tom tak dapat memastikan berapa lama lagi gadis asal Borough, London Selatan itu bisa bertahan hidup.
Ia hanya bisa menduga hidup Alisha mungkin tak lebih dari 10 tahun. Karena kemoterapi yang dijalaninya, Alisha juga takkan pernah bisa memiliki keturunan. Meski demikian Alisha justru merasa beruntung karena kekasihnya, Jon Douglas tetap setia mendampinginya. Bahkan setelah didiagnosis kanker, Jon mengajaknya menikah dalam waktu dekat.
Baca juga: Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia
Beberapa waktu lalu, Prof Faisal Yunus, SpP(K) dari RS Persahabatan pernah mengatakan rokok lebih berbahaya dari polusi udara sekalipun karena asap rokok dan residunya mengikuti perokok seharian penuh.
"Polusi kendaraan bermotor, polusi asap kebakaran masih bisa dihindari. Tapi perokok lagi di kamar merokok. Di kamar mandi merokok. Di tempat makan merokok. Kadang lagi di jalan juga merokok. Asapnya mengikuti terus ke mana-mana," jelasnya.
(lll/vit)











































