Mikrosefali ini belakangan jadi pembicaraan hangat karena kasusnya mengalami peningkatan dan dikaitkan dengan merebaknya virus Zika. Bayi dengan mikrosefali besar kemungkinan mengalami gangguan perkembangan sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya mulai dari saran menunda kehamilan sampai muncul usulan untuk mengizinkan aborsi.
Hal ini membuat Ana sebagai seorang yang terlahir dengan kondisi tersebut merasa terusik. Menurutnya yang muncul adalah ketakutan terhadap mikrosefali namun tak tahu fakta-faktanya sehingga lahir prasangka buruk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat saya lahir dokter bilang bahwa saya tak akan bertahan hidup. 'Dia akan tidak bisa jalan, tidak bisa bicara, dan dalam kondisi vegetatif sampai ajalnya,' begitu kata dokter. Tapi dia salah. Saya bisa tumbuh, masuk sekolah, kuliah, dan sekarang saya seorang jurnalis dan penulis blog," kata Ana seperti dikutip dari BBC, Selasa (2/2/2016).
"Mikrosefali seperti kotak yang penuh kejutan. Anda mungkin akan menderita dengan kondisi serius tapi mungkin juga tidak. Jadi saya percaya para ibu yang memilih aborsi tidak memberikan kesempatan untuk anaknya," lanjut Ana.
![]() |
Diakui oleh Ana memang anak dengan mikrosefali membutuhkan perhatian yang lebih dari biasa. Namun demikian apabila ditangani dengan baik anak-anak mikrosefali tetap bisa memiliki masa depan.
Ana sendiri pernah menjalani sampai lima kali operasi di usia kurang dari 9 hari setelah lahir karena kesulitan bernapas. Selain itu ia juga kerap mengalami kejang-kejang sehingga harus rutin mengonsumsi obat.
"Saya harus minum obat sampai usia saya 12 tahun, tapi setelah itu bisa lepas. Sekarang saya bahkan bisa memainkan violin," kata Ana.
"Saya sadar bahwa mikrosefali bisa memiliki konsekuensi yang lebih serius dan tidak semua orang bisa seberuntung saya. Tapi saya menyarankan agar ibu atau wanita hamil tetap tenang," pungkas Ana.
Baca juga: Dokter: Ibu-ibu dengan Bayi Mikrosefali Rentan Depresi (fds/vit)











































