Orang tua George, Sam dan Pete Morrison mengatakan hal itu mesti dilakukan untuk mencegah gejala berbahaya yang disebabkan GSD. Jika George tidak mengasup sekitar 180 gram tepung jagung sehari, bocah itu bisa mengalami koma dan nyawanya terancam. Memang, baru-baru ini George diberi resep obat pengganti tepung jagung itu tetapi obat tersebut belum lulus uji coba di Inggris.
"Saya tidak bisa membuat anak saya menanggung risiko konsumsi obat yang belum lulus uji di sini. Sehingga, mau tidak mau saat ini saya harus membeli setidaknya tujuh kotak tepung jagung seminggu dengan biaya sekitar Rp 5,3 juta setahun," tutur Sam, dikutip dari Daily Mail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika George memiliki kadar gula darah yang rendah, dirinya akan merasa lemas dan memerlukan bantuan medis darurat. Jika tidak cepat ditolong, George bisa mengalami koma dan meninggal. Sam hanya berharap NHS bisa memberi alternatif pengobatan lain bagi putranya.
"Kami bisa saja menggunakan obat glycosade tapi jika itu sudah diuji di Inggris. Sementara, saya hanya bisa mendukung putra saya salah satunya dengan selalu membelikannya tepung jagung agar tidak kolaps. Saya juga berharap NHS bisa memberi sedikit perhatian pada anak saya sebab GSD merupakan penyakit langka yang belum diketahui banyak orang," terang Sam.
Dikutip dari cincinnatichildrens.org, ketika kadar glukosa darah meningkat, tubuh akan menyimpan glukosa ekstra dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Baru ketika kadar glukosa dalam tubuh menurun, glikogen akan diubah menjadi glukosa agar tubuh mendapatkan energi. Namun, pada orang dengan GSD, hati tidak bisa mengontrol penggunaan glikogen dan glukoisa karena hilangnya enzim tertentu yang mengontrol perubahan glukosa menjadi glikogen, atau sebaliknya, glikogen melepas glukosa.
Pada pasien GSD, jumlah glikogen yang disimpan di hati pun tidak normal dan kadar gula darah dalam tubuh amat rendah (mengalami hipoglikemia.)
Baca juga: Jagung Memperkuat Tulang dan Gigi
(rdn/vit)











































