Senin, 11 Apr 2016 11:34 WIB

True Story

Perjuangan Ashley, Harus 'Menyepi' karena Alergi Cuaca Hingga Aroma Makanan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Facebook/Mindfully Ashley Foto: Facebook/Mindfully Ashley
Los Angeles - Malang bagi Ashley Fisher. Sewaktu-waktu ia bisa saja mengalami syok anafilaktik atau reaksi alergi yang buruk karena hal-hal sepele, seperti aroma makanan atau perubahan cuaca. Bisa dibilang alergi yang dialami Ashley tergolong ekstrem.

"Dalam sehari saya bisa menghabiskan 14 obat sekaligus. Tapi saya tak bisa kemana-mana, dan tak bisa hidup normal seperti halnya anak-anak lain," katanya.

Namun kondisinya sempat membaik, sehingga Ashley berkesempatan menyelesaikan sekolahnya, meski hanya secara online dan mulai masuk kuliah di bulan Agustus 2013, di Kanada.

Hingga suatu malam Ashley terbangun dalam keadaan tak bisa bergerak sama sekali. Tak hanya itu, wanita asal Los Angeles, California ini mengaku sekujur tubuhnya membengkak, hingga ia harus selalu dibantu saat melakukan hal apapun.

"Saya benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Semuanya dibantu, mulai dari duduk sampai memakai baju atau keramas," urainya.

Lima bulan kemudian, Ashley mengalami syok anafilaktik pertamanya, saat berada di rumah sakit. Dan semenjak saat itu Ashley mudah terserang syok karena aroma berbagai hal, seperti asap pembuangan mobil, aroma bunga, cat, parfum, bahkan aroma makanan yang tak begitu kentara seperti kacang atau alpukat yang muncul dari mulut seseorang.

"Kadang tidak ada apapun saya bisa saja shock," imbuhnya seperti ditulis dalam akun Facebook-nya, Mindfully Ashley.

(Foto: Facebook/Mindfully Ashley)

Baca juga: Punya Kondisi Langka, Claudia 'Alergi' Berdiri Tegap

Ashley akhirnya tak diperkenankan keluar rumah sama sekali karena dikhawatirkan akan muncul reaksi alergi dari hal-hal yang tersebar lewat udara. Bahkan aroma pasien lain atau cairan pembersih di ruang praktik dokter bisa tercium olehnya dan mengakibatkan reaksi.

"Jadi saya harus pakai masker kemana-mana," ungkapnya. Karena alergi yang sama, Ashley juga hanya bisa mengonsumsi empat jenis makanan, yaitu wortel, bawang bombay, bawang putih dan seledri saja.

Namun baru dua tahun lalu Ashley mendapatkan diagnosis yang pasti atas kondisinya, yang disebut dengan mast cell activation disorder (MCAD). MCAD yang langka ini terjadi saat jumlah sel mast, salah satu komponen penting dalam sistem imunnya, melebihi jumlah yang seharusnya. Akibatnya sel-sel ini 'menganggap' hal-hal yang seharusnya tidak memicu alergi menjadi alergen.

Hanya saja karena tak bisa keluar rumah, Ashley jadi tak bisa berobat. Setelah mentok akhirnya keluarga membawa gadis berumur 20 tahun itu untuk menemui praktisi kesehatan bernama Dr Robert Janda yang menggunakan metode desensitisasi untuk menangani Ashley.

Dengan metode ini, Ashley diperkenalkan kembali dengan aroma makanan dan bahan kimia tertentu sedikit demi sedikit. Dan ternyata metode ini berhasil, karena hanya dalam kurun sepekan, Ashley bisa mengonsumsi dua bahan makanan lain lagi.

"Ketika Ashley datang pertama kali, ia tidak berbuat apa-apa. Tapi kini ia lebih kuat dan tidak hanya duduk di atas kursi roda, bahkan bisa berolahraga," terang Dr Janda.

Pencapaian ini sudah didapat oleh Ashley meskipun terapi baru berjalan enam bulan. Namun dengan kemajuan yang begitu pesat, baik Dr Janda dan Ashley meyakini kondisi ini akan segera teratasi sepenuhnya.

Baca juga: 5 Keluhan yang Menandakan Tubuh Punya Alergi (lll/vit)
News Feed