ADVERTISEMENT

Kamis, 21 Apr 2016 14:35 WIB

True Story

Kisah Lisa, Meninggal karena Gangguan Makan dan Diabetes

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Lisa Day (kanan) dan kakaknya, Katie Andrews, sebelum bobotnya turun (Foto: Telegraph)
London - Diabulimia sebenarnya bukanlah kondisi yang baru-baru ini ditemukan. Hanya saja karena tidak dikenal luas, penanganannya menjadi tidak tepat sasaran.
 
Salah satu pengidap diabulimia adalah Lisa Day. Di usia 14 tahun, ia didiagnosis mengidap diabetes tipe 1. Lisa yang semula sehat dan ceria, bobotnya menurun drastis hingga belakangan ia juga didiagnosis dengan anoreksia.

"Sebagai diabetesi, ia harus memperhatikan makanannya betul-betul. Tetapi karena disertai dengan gangguan makan, ia menjadi terobsesi untuk menurunkan berat badannya," kisah sang kakak, Katie Edwards (31).

Ketika beranjak dewasa, Lisa juga menyadari jika bobotnya bakal terus turun jika ia tidak menyuntikkan insulin ke tubuhnya. Padahal suntikan insulin merupakan sebuah kebutuhan bagi diabetesi. Beberapa kali Lisa sengaja melakukannya, bahkan makin lama ia mengurangi dosis insulinnya.

Hingga akhirnya di usia 27, keluarga Lisa baru menyadari bahwa gadis ini mulai berhenti untuk menyuntikkan insulin ke tubuhnya. Namun semuanya sudah terlambat, sejumlah organnya telah mengalami kerusakan, seperti gagal ginjal, katarak bilateral dan gangguan mata serius. Dan pada tanggal 12 September 2015, Lisa menghembuskan napas terakhirnya.

"Setelah ia meninggal, saya membereskan barang-barangnya dan menemukan catatan-catatan tentang dietnya. Ternyata ia memiliki obsesi yang tidak sehat pada makanan dan tidak mendiskusikannya dengan siapapun. Padahal mungkin kalau ia diurus dengan baik, hasilnya tidak akan begini," sesal Katie seperti dilaporkan Telegraph.

Baca juga: Hah! Ada Penyakit Baru Perpaduan Antara Diabetes dan Bulimia

Kini Katie dan keluarganya menyadari bahwa sang adik mengidap diabulimia, sebuah gangguan makan di mana seorang pasien diabetes tipe 1 sengaja menghentikan suntikan insulin yang dibutuhkan tubuhnya hanya untuk menurunkan berat badan.

Lisa Day saat berat badannya mulai berkurang drastis (Foto: Telegraph)

Kondisi ini memang belum diakui di dunia kedokteran, pun belum ada data statistik yang bisa menggambarkan berapa banyak orang yang mengalaminya. Namun para pakar mengatakan, diabulimia lumrah ditemukan pada pasien wanita.

Ironisnya, sebuah riset mengungkap 40 persen diabetesi berusia 15-40 tahun sampai pada titik di mana ia berusaha untuk membatasi suntikan insulinnya demi mengurangi bobot. Padahal ini meningkatkan risiko mereka untuk terserang anoreksia maupun bulimia.

"Harusnya mereka menyuntikkan insulin secara rutin karena tubuhnya tidak bisa memproduksi sendiri. Tapi orang dengan diabulimia sengaja mengurangi atau menghilangkan kebutuhan itu, yang pada akhirnya memicu tubuh untuk menyerang dirinya sendiri dan mengakibatkan penurunan bobot," jelas Jacqueline Allan dari badan amal Diabetics With Eating Disorders (DWED).

Selain itu, karena 'asupan' insulinnya tidak terpenuhi, orang dengan diabulimia cenderung mengalami gangguan kesehatan serius dari waktu ke waktu, bahkan mayoritas meninggal karena diabetic ketoacidosis atau komplikasi serius yang diakibatkan oleh kekurangan insulin.

Baca juga: Terobsesi Jadi Kurus Saat Kena Diabetes, Malah Harus Kehilangan Bayi

Katie dan Jacqueline berharap kisah tentang Lisa ini mendorong otoritas kesehatan seperti NHS di Inggris untuk memperhatikan para pasien diabulimia yang seringkali tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Seperti halnya Lisa, ketika dibawa ke psikiater untuk mengatasi gangguan makannya, pengobatan hanya difokuskan pada kondisi tersebut, sedangkan diabetesnya terabaikan.

Lisa, lanjut Katie, memang akhirnya dirujuk ke satu-satunya klinik di Inggris yang menangani pasien diabetes dan gangguan makan, tetapi bantuan itu juga terlambat diberikan, hingga empat pekan kemudian Lisa menghembuskan napas terakhirnya.

(lll/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT