Khawatir Anak Pakai Narkoba, Para Ortu di AS Panggil Pria Ini

True Story

Khawatir Anak Pakai Narkoba, Para Ortu di AS Panggil Pria Ini

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 30 Mei 2016 10:32 WIB
Khawatir Anak Pakai Narkoba, Para Ortu di AS Panggil Pria Ini
Foto: ABC News
New Orleans - Di sore yang tenang itu, Michael Davis mendapat panggilan dari seorang ibu asal New Orleans bernama Kelly. Sang ibu khawatir anak laki-lakinya yang baru berumur 12 tahun telah mengonsumsi narkoba.

Lalu mengapa Kelly menghubungi Davis? Davis bukanlah polisi ataupun dokter. Ia adalah bekas tentara yang juga pernah bermasalah dengan obat-obatan terlarang. Namun dari pengalamannya itu, Davis tergerak untuk mendirikan sebuah perusahaan yang menawarkan program unik, yang disebutnya sebagai 'Worried Parent Program'.

Sasarannya adalah para orang tua yang curiga atau khawatir jika anaknya mengonsumsi narkoba. Jadi bila Anda meminta jasa Davis, ia akan datang ke rumah Anda bersama seekor anjing pelacak yang akan mengendus kamar anak Anda dan menangkap basah mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sampai tak bisa tidur karena mencurigai anak saya lepas kendali dan melakukan hal ini," kata Kelly yang enggan disebut nama lengkapnya itu.

Benar saja, ketika Davis mulai beraksi, anak laki-laki Kelly yang bernama Jared itu menangis. Meski awalnya sempat curiga, anjing Davis tidak menemukan narkoba di kamar Jared. Rupanya ketakutan Kelly tidak terbukti, tetapi jasa yang ditawarkan Davis memang lain dari yang lain.

Baca juga: Yuk Kenali, Hal-hal yang Bisa Jadi Pendorong Anak Terjerat Narkoba

Pertama, pendekatan yang digunakan Davis. Selain karena ia bukanlah pihak berwajib, ketika anjingnya menemukan obat terlarang, maka ia akan membiarkannya begitu saja.

"Setelah kami temukan narkotikanya, kami kembalikan ke si orang tua. Tapi kami juga memberikan arahan harus kemana dan bagaimana caranya mencari bantuan," tutur Davis seperti dilaporkan ABC News.

Dari pengalamanya, Davis tahu bahwa remaja rentan melakukan penyalahgunaan obat-obatan. Di sisi lain, usia mereka masih terlalu muda untuk merasakan dinginnya sel ataupun masuk daftar hitam kepolisian. Untuk itu dengan pendekatan ini, ia berharap bisa memberikan peringatan kepada para remaja agar segera berhenti mengonsumsi narkoba.

"Kami biasanya meminta orang tua untuk menjadi sekutu si anak, bukan memusuhinya, dengan begitu mereka bisa membantu menghentikan kebiasaan itu," tutur Davis.

Pria yang berkantor di Louisville, Kentucky itu juga selalu meminta pertimbangan si anak ketika memilih metode untuk menghentikan kebiasaannya mengonsumsi narkoba.

Baca juga: Faktor Gaya Hidup, Mayoritas Pecandu Narkoba Berusia 20-an Tahun

Lalu apakah Davis mematok bayaran? Karena ia juga berbisnis, maka untuk tiap sesi 'sweeping', Davis mematok biaya sebesar 99 dollar AS (Rp 1,3 juta). Hal inilah yang kemudian semakin memicu kontroversi pada dirinya. Selain karena Davis bertindak di luar wewenang pihak berwajib, ia juga dianggap para psikolog sengaja memanfaatkan ketakutan orang tua.

Meski begitu, Davis mengaku mendapat panggilan dari seluruh penjuru negeri. Klien terbesarnya adalah dari rumah singgah yang rata-rata ditinggali remaja yang memang pernah bermasalah dengan obat-obatan terlarang. (lll/up)

Berita Terkait