Senyum Syarifah, Pasien Kanker Anak Saat Melihat Penyanyi Idolanya

Senyum Syarifah, Pasien Kanker Anak Saat Melihat Penyanyi Idolanya

Agus Setyadi - detikHealth
Senin, 27 Jun 2016 16:00 WIB
Senyum Syarifah, Pasien Kanker Anak Saat Melihat Penyanyi Idolanya
Senyum Syarifah (Foto: AgusSetyadi)
Banda Aceh - Syarifah Nahrisya duduk di bangku deretan paling depan di depan panggung. Raut wajahnya ceria. Senyum mengembang dari bibir anak berusia delapan tahun itu. Sesekali, ia melongok ke belakang, melihat ibunya yang berada tak jauh dari dirinya. Ia tak banyak berbicara.

Siswa kelas 2 Sekolah Dasar (SD) asal Simpang Ulim, Aceh Timur, Aceh itu sejak empat bulan lalu terpaksa berhenti mengenyam pendidikan. Ia divonis dokter memiliki kanker ovarium. Perut Syarifah membesar. Meski sudah menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, ia masih dalam perawatan.

"Sekarang perutnya sudah mengecil setelah dioperasi," kata ibu Syarifah Nahrisya, Syarifah Rusna kepada detikcom saat ditemui usai nonton film Bergek The Movie di Gedung ACC Sultan Selim, Banda Aceh, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak 3,5 bulan lalu, Syarifah menghabiskan waktu di RSUZA. Sejatinya, ia harus mengikuti ujian kenaikan kelas beberapa bulan lalu. Tapi itu tidak dapat dipenuhinya. Ibunda Syarifah tidak mengetahui sejak kapan kanker berada di tubuh buah hatinya. Tiba-tiba saja pada suatu hari, Syarifah mengeluh sakit pada bagian perut.

"Setelah diperiksa dokter bilang menderita kanker ovarium," jelasnya.

Selama menjalani perawatan di Banda Aceh, Syarifah didampingi komunitas Children Cancer Care Community (C-Four), sebuah komunitas yang peduli dengan anak-anak kanker dari seluruh Aceh. Pendirinya, Ratna Eliza, perempuan kelahiran Palembang 28 Oktober 1974, kini sudah menetap di provinsi paling ujung barat Indonesia.

Ratna bersama beberapa relawan C-Four hingga kini sudah mendampingi 40 anak-anak kanker. 18 Di antara mereka meninggal dunia sedangkan sisanya masih menjalani perawatan seperti kemoterapi. Selama di Banda Aceh, mereka ditampung di rumah singgah C-Four di kawasan Lorong Blang Cut, Lambhuk, Banda Aceh.

Anak-anak yang ditangani C-Four mulai dari usia 10 bulan hingga 15 tahun. Mereka menderita berbagai macam jenis kanker di antaranya kanker limfoma, retinablastoma, dan leukimia.

"Mereka selama ini harus menjalani kemo dengan siklus ada yang seminggu sekali, seminggu dua kali dan ada juga yang seminggu tiga kali," kata Ratna.

Selama mendampingi anak-anak kanker, banyak pengalaman yang didapatkan Ratna. Ia mulai tergerak untuk menjadi relawan berawal pada Januari tahun 2014 silam. Saat itu, Ratna melihat seorang anak kecil turun dari becak bersama ibunya. Di leher anak tersebut, ada benjolan berukuran besar. Ia sempat mengira itu adalah penyakit gondok.

Penasaran, Ratna kemudian mengikuti ibu dan anak kecil bernama Annisa Alqaisya Funnari itu. Ia kemudian mendapatkan jawaban dari sang anak bahwa dirinya terkena kanker. Saat itu, Annisa hendak dirujuk oleh RSUZA ke RS Dharmais di Jakarta. Tapi, orangtuanya tidak punya biaya untuk bertahan hidup selama di Ibukota.

Seketika, Ratna memutar otak agar mendapatkan bantuan untuk Annisa. Ia bersama orangtua Annisa kemudian datang ke Dinas Sosial Aceh untuk mengajukan biaya pengobatan. Tapi hasil yang didapatnya sangat tidak seperti yang diharapkan.

Ratna kemudian memakai berbagai cara agar ada orang yang mau membantu. Terakhir, ia memposting foto Annisa di akun Facebook miliknya. Tak lama berselang, sejumlah teman-temannya semasa SMP di Palembang mengirim uang ke rekeningnya. Annisa akhirnya dapat diberangkatkan untuk berobat ke Jakarta.

Sejak saat itu, Ratna mulai menangani anak-anak dengan kanker dari seluruh Aceh. Ia banyak mendapatkan informasi soal adanya anak kanker dari akun Facebook. Kadang ada orang yang sengaja memberitahu dirinya.

Selama menjadi relawan, Ratna sempat beberapa kali putus asa. Hal itu karena beberapa anak yang sedang didampinginya meninggal dunia saat dalam perawatan. "Saya sempat down ketika itu. Karena beberapa anak yang saya dampingi meninggal dunia, termasuk Annisa," jelasnya.

Ratna beserta relawan C-Four yang dipimpinnya kini berusaha untuk membangkitkan semangat anak-anak penderita kanker yang ada di Tanah Rencong. Menurut Ratna, C-Four didirikan untuk membantu permasalahan dan kendala serta turun tangan langsung memberikan berbagai bantuan untuk anak penderita kanker yang ada di Aceh.

Komunitas yang didirikan dua tahun lalu itu mempunyai berbagai kegiatan di antaranya, mendampingi pasien kanker rujukan yang berasal dari daerah baik dalam pengurusan administrasi yang diperlukan untuk perawatan di rumah sakit Zainal Abidin, memberikan bantuan berupa donasi dan kebutuhan pasien anak kanker yang diperlukan selama masa perawatan.

Selain itu juga melakukan sharing kepada orangtua penderita untuk lebih mengetahui apa yang mereka butuhkan selama masa perawatan anak kanker dan mengadakan home schooling bagi anak-anak kanker.

Berdasarkan informasi yang diposting di salah satu situs penggalangan dana, Ratna menyebut ia bersama komunitasnya selama ini sudah menggelar berbagai kegiatan untuk anak-anak kanker. Di antaranya, memberikan bantuan donasi bagi penderita yang tidak mempunyai biaya transport dan biaya selama menjalani perawatan, pembagian nasi bungkus kepada anak dan keluarga pasien kanker dan memberi bingkisan berupa makanan dan mainan kepada pasien kanker anak.

"Sangat banyak anak-anak kanker, tapi sampai sekarang belum ada jumlah pasti. Yang kami dampingi saja cukup banyak," ungkap Ratna.

Saat menjalani perawatan di ruang onkologi RSUZA, pasien kanker anak menghabiskan waktu mereka dengan berbagai kegiatan. Ada yang menonton video di YouTube dan ada juga yang disibukkan dengan kegiatan lain. Menurut Ratna, mereka kerap mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan Bergek, artis lokal Aceh.

Saat peluncuran film terbaru Bergek Sabtu pekan lalu, pasien kanker anak turut diundang. Kegiatan diisi dengan penggalangan dana dan pemberian santuan. Mereka terlihat ceria, terlebih saat penyanyi bernama asli Zuhdi itu menyanyikan salah satu lagu kesukaan mereka.

"Senang rasanya anak-anak kanker bisa dilibatkan dalam acara penggalangan dana seperti ini apalagi anak-anak kanker fans berat Bergek," kata Ratna.


Bagi sebagian pasien kanker anak, Bergek menjadi semacam penyemangat. Raut wajah mereka seketika berubah kala mengetahui mendapat undangan nonton bareng dan bertemu Bergek. Bahkan, ada satu pasien kanker anak yang sudah dua hari tidak sanggup bangun tapi begitu diberi tahu rencana bertemu Bergek, ia menjadi kuat.

"Ia sampai bilang begini 'Mak apa betul ini kita akan nonton Bergek. Apa Bang Bergek mau foto sama saya'," ungkap Ratna menirukan ucapan anak-anak tersebut.

Nama Bergek sejak pertengahan 2015 lalu begitu melekat di benak masyarakat Aceh. Anak-anak hingga orang dewasa mengidolakannya. Lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi kelahiran 24 tahun silam itu memang sangat mudah dihafal. Sehingga tak heran jika banyak masyarakat kerap melantunkan saat sedang berkumpul.

Lirik lagunya terbilang kocak. Liriknya bercampur bahasa Aceh dan bahasa Indonesia, ditambah irama India. Berkat gaya itulah, namanya menjadi fenomenal di Aceh. Demam Bergek sempat melanda Tanah Rencong sehingga ia kerap diminta tampil di beberapa kesempatan. Beberapa album yang dikeluarkannya diburu masyarakat. Bergek bukan orang baru dibelantika musik Aceh. Ia sudah menyanyi sejak usianya belasan tahun.

"Saya sangat senang bisa membantu antar sesama, apalagi dengan anak-anak kanker," kata Bergek.

Bagi anak-anak dengan kanker, Ratna dan Bergek adalah orang dapat memberi motivasi dan penyemangat. Syarifah bahkan dengan semangat menyanyikan salah satu lagu penyanyi asal Aceh Utara itu meski kondisinya masih lemah. Bulir air mata ibunya seketika tumpah kala mendengar nyanyian dan melihat semangat buah hatinya.

"Bang Bergek jadi abang saya juga boleh. Tadi sangat senang bisa foto dengan Bang Bergek," ucapnya.

(vit/vit)

Berita Terkait