ADVERTISEMENT

Jumat, 22 Jul 2016 10:05 WIB

True Story

Hebat! Tanpa Sepasang Kaki Sempurna, Eman Raih Penghargaan Kiper Terbaik

Mukhlis Dinillah - detikHealth
Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Ramah, murah senyum dan menginspirasi. Begitulah kesan pertama saat bertemu dengan Eman Sulaiman. Pria berusia 27 tahun ini merupakan peraih penghargaan kiper terbaik street soccer Homeless World Cup (HWC) 2016.

Eman lahir dan tinggal di Desa Tegalsari, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Eman merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Sejak lahir Eman sudah menyadang disabilitas.

Anggota tubuhnya tidak sempurna, kaki kiri hanya sebatas lutut, sedangkan bagian kanan mencapai pergelangan. Namun, bagian anggota tubuh lainnya tampak normal.

Dengan keterbatasan yang dimiliki, tak lantas menjadikan Eman pribadi yang murung dan minder. Keinginan bisa beraktivitas seperti anak-anak seusianya kala itu membuatnya mengenal sepak bola.

"Jadi dulu pas SD kelas dua suka liat temen sama kakak main bola. Tiba-tiba di benak saya waktu muncul keinginan untuk bisa bermain bola. Sejak saat itu saya mulai menyukai sepakbola," kata Eman kepada detikHealth di Rumah Cemara, Jalan Geger Kalong, Kota Bandung, Selasa (19/7/2016).

Sulit memang melakoni olahraga yang hampir sepenuhnya menggunakan kaki. Namun berkat keinginan tinggi, Eman dapat melalui semua proses pembelajaran dengan baik.

Sebelum menjadi seorang penjaga gawang, Eman lebih dulu menjajal kemampuannya dengan berposisi sebagai penyerang. Eman pun seolah menemukan posisi terbaiknya.

"Dulu waktu SD jadi penyerang, beberapa kali saya ikut event sepakbola. Tapi pas SMP milih pindah posisi jadi kiper, soalnya capek, nggak kuat kalau jadi penyerang mah," ucap pria yang rambutnya dicat pirang ini.

Seiring berjalannya waktu, Eman semakin jatuh cinta terhadap sepakbola. Bahkan, Eman semakin serius menggeluti dunia sepakbola dengan membentuk tim futsal bersama beberapa rekannya.

Bersama tim Maja Chelsea Futsal, Eman pernah merasakan sejumlah title juara turnamen amatir. Bahkan, penghargaan individu juga pernah diterimanya kala itu.

"Alhamdulillah pas saya pertama kali ikut seleksi langsung diterima. Sebenarnya dua tahun sebelumnya mau ikut seleksi, tapi nggak jadi terus," jelas dia.

Baca juga: Kisah Ami, Atlet Balap Kursi Roda yang Hanya Memiliki Satu Kaki

Pengalaman baru saat menjadi bagian dari tim adalah porsi latihan yang cukup ketat. Sekaligus hal ini juga menjadi tantangan terbesar sebelum berkiprah di HWC 2016.

Persiapan yang terbilang singkat, membuat para pemain harus mengerahkan semua kemampuan. Selain mengedepankan mental bertanding, kerjasama tim menjadi hal penting.

"Kualitas mereka dari cara latihan sudah jauh berbeda, mereka persiapannya lebih matang. Tapi kami punya daya juang tinggi dan kerjasama tim. Pertandingan paling berkesan itu saat melawan Meksiko dan Portugal, mereka kuat sekali," kata Eman.

Sebagai satu-satunya penyandang disabilitas yang berpartisipasi langsung pada turnamen HWC 2016, Emen menjadi sorotan sekaligus pembeda. Penampilan impresifnya di bawah mistar gawang membuatnya mendapat predikat kiper terbaik.

"Motivasi saya sejak awal ingin mewakili disabilitas yang bisa berprestasi dalam kejuaraan. Dulu ada dari Korea yang disabilitas juga, tapi nggak dimainin. Baru Indonesia yang dipercaya main," ujar dia.

Baca juga: Surya Sahetapy Sampai Amerika Serikat Demi Memajukan Tunarungu



Sebagai seorang penjaga gawang, tentunya Eman memiliki sosok motivator dan idola. Mantan kiper Machester United, Edwin Van Der Sar merupakan sosok yang dikagumi Eman selama ini.

"Dia hebat. Saya banyak belajar dengan menonton setiap pertandingan MU," kata dia

Pengalaman dan pencapaian yang didapatkan Eman tak lantas membuatnya berpuas diri. Satu misi yang ingin ia jalani saat ini adalah menjadi motivator bagi anak-anak muda difabel.

Dia ingin berbagi ilmu dan membuktikan bahwa dengan keterbatasan fisik tidak otomatis menghalangi untuk meraih prestasi, asalkan percaya diri dan tak berkecil hati.

"Yang jelas saya termotivasi untuk bisa buktikan bahwa orang-orang seperti saya bisa berprestasi bagi Indonesia. Kemampuan yang terbaik, dicurahkan. Tapi kuncinya jangan berdiam diri, yakin bahwa masing-masing punya kemampuan,"ucapnya mantap.
(vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT