Selasa, 27 Sep 2016 12:32 WIB

True Story

Kisah Perjuangan Tari Jalani Program Kehamilan Meski Idap CML

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Tari dan putrinya, Marva / Foto: Radian Nyi S
Jakarta - Lestari Indah Kusumawati (36) didiagnosisi Chronic Myeloid Leukemia (CML) atau yang dalam bahasa Indonesia disebut Leukemia Granulositik Kronik (LGK). Meski demikian, sebagai seorang wanita, Tari, begitu ia akrab disapa tetap memiliki keinginan untuk bisa hamil. Tari pun tetap berusaha dan tak patah semangat hingga ia melahirkan Andita Marva Ayu (6) dalam kondisi normal dan sehat.

Tari mengisahkan, gejala CML sudah mulai ia rasa di akhir tahun 2007. Namun, saat itu Tari mengira lebam-lebam, perut begah, dan mimisan yang dialami karena terlalu lelah bekerja. Terlebih saat itu Tari tengah mempersiapkan pernikahannya. Pasca menikah, sekitar awal tahun 2008, sang suami meminta Tari untuk melakukan general check up. Hasilnya, kadar leukosit Tari mencapai 500 ribu. Saat itupun Tari positif mengidap CML.

"Dikasih obat imatinib mesylate waktu itu saya habis Rp 30 juta sebulan, dosisnya 400 mg. Setelah minum obat selama sebulan semuanya normal, badan terasa enak, segar, perut nggak begah lagi," kata Tari saat berbincang dengan detikHealth usai diskusi bersama Himpunan Masyarakat Peduli Elgeka baru-baru ini.

Setelah satu tahun berobat dan mengonsumsi imatinib atau sekitar awal tahun 2009, Tari ingin menjalani program kehamilan. Dengan diawasi oleh dua dokter, kala itu Tari diberi tahu jika selama tiga bulan ia berhenti konsumsi imatinib dan kadar leukositnya masih normal dalam artian kenaikannya tidak terlalu signifikan, Tari dapat melanjutkan program kehamilan.

Tapi jika kadar leukosit terlampau tinggi, maka Tari tidak bisa melanjutkan program kehamilan. Kemudian, nantinya Tari tidak bisa menyusui karena memang harus segera lanjut konsumsi imatinib setelah melahirkan. Di trimester pertama dan kedua, kadar leukosit Tari masih dalam batas normal.

Baca juga: Ingat, Chronic Myeloid Leukemia Bukan Halangan bagi Wanita untuk Hamil

Barulah di trimester ketiga, kadar leukosit Tari naik menjadi sekitar 90 ribu dan dokter pun memberinya hidroksi urea. Kenaikan kadar leukosit dikatakan Tari tak menunjukkan gejala apa-apa tapi hal itu bisa diketahui karena memang tiap bulan dilakukan pemeriksaan darah perifer. Saat usia kehamilannya menginjak 32 minggu, dokter meminta Tari menjalani operasi caesar karena air ketuban Tari diktakan kurang baik.

"Setelah lahir Marva sempat masuk ICU karena pernapasannya kurang baik selama kurang lebih satu bulan. Ya, perjalanan demi perjalanan ini saya lalui. Jujur memang ada kekhawatiran nanti ada apa-apa nggak sama anak saya. Tapi saya tetap berpikir positif," kata Tari.

"Saya yakin saya pasti punya anak, ada mukjizat sendiri. Saya tahu mukjizat itu turun melalui tangan dokter yang mendampingi saya. Makanya berusaha nggak punya negative thinking. Saat hamil juga saya tetap kerja, nggak ada keluhan berarti. Morning sickness juga nggak parah," lanjut wanita yang berdomisili di BSD ini.

Selama hamil, Tari mengaku selalu mendapat dukungan dari keluarga dan teman terdekatnya, termasuk teman sesama pasien CML. Merekalah yang menurut Tari terus mensupport bahwa Tari bisa tetap sehat meski dan memiliki kehamilan yang sehat. Setelah melahirkan, memang Tari tak bisa menyusui Marva karena ia harus segera melanjutkan konsumsi imatinib. Sampai saat ini, Marva yang sudah duduk di bangku kelas 1 SD ini pun tahu Tari tiap hari mengonsumsi obat, tapi yang ia paham, sang ibu meminum vitamin.

"Pesan saya untuk para perempuan yang kebetulan CML dan memang ingin hamil. Kita pasrah sama Tuhan, berdoa, yakin kalau mukjizayt itu ada dari Tuhan. Jangan patah semangat. Kalau kita udah ada niat benar-benar, ya harus kita jalanin. Seperti pengalaman saya, saat ini pun anak saya seperti anak lainnya, perkembangannya juga seperti anak normal lainnya," tutup Tari.

Baca juga: Heidi Tetap Pertahankan Bayinya Meski Didiagnosis Kanker Saat Hamil 3 Bulan

(rdn/vit)