Kisah Paulus Bisa 'Bangkit' Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML

True Story

Kisah Paulus Bisa 'Bangkit' Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 30 Sep 2016 12:03 WIB
Kisah Paulus Bisa Bangkit Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML
Foto: Radian Nyi S
Jakarta - Tubuh Paulus Maria Bagus Setiantoko (45) makin kurus di tahun 2005. Memang, porsi makannya sedikit sampai-sampai sang istri mengira Paulus kerap membeli makan di luar rumah.

"Nggak ada gejala lain dan karena kebetulan saya banyak kenalan dokter, saya disarankan periksa darah. Kemudian diketahui limpa saya bengkak. Akhirnya sampai tiga kali dites termasuk Bone Marrow Puncture (BMP), saya didiagnosis CML (Chronic Myeloid Leukemia). Nggak percaya ya saat itu," kata Paulus.

Ketika berbincang dengan detikHealth usai diskusi bersama Himpunan Masyarakat Peduli Elgeka baru-baru ini, Paulus mengatakan ia sempat drop tiga bulan setelah didiagnosis. Kala itu, sang istri tengah mengandung anak keduanya dan anak pertama Paulus masih berusia 6 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pikiran saya waktu itu udah takut matilah, anak masih kecil. Kalau keluarga jangan ditanya, pada nangis, takut, khawatir," ujar pria yang kini menjadi wakil ketua Himpunan Masyarakat Peduli ELGEKA Indonesia (Elgeka) Nasional ini.

Namun, ia berusaha bangkit. Selain kondisi tubuhnya yang mulai membaik, Paulus mencoba mengubah pola pikirnya bahwa di luar sana masih banyak orang yang lebih kurang mampu dibanding dia, berkaca bahwa kala itu Paulus masih memiliki pekerjaan sebagai tour leader. Begitupun sang istri yang juga masih bekerja.

Baca juga: Didiagnosis CML Saat Berumur 6 Tahun, Given Tetap Semangat dan Ceria

Untuk konsumsi obat, empat sampai lima bulan pertama Paulus menghabiskan biaya sekitar Rp 30 juta per bulan. Uang tabungan sampai bantuan dari keluarga digunakan untuk bisa mengcover biaya obat. Sampai akhirnya Paulus sudah kewalahan membeli obat, ia mengikuti program Glivec International Patient Assistance Program (GIPAP).

Sejak saat itu, biaya pengobatan dirasa Paulus sudah lebih ringan. Sampai saat ini, Paulus tetap rutin mengonsumi imatinib mesylate 400 mg. Memang, kadang kala timbul rasa bosan untuk minum obat. Namun, Paulus menyiasatinya dengan menamamkan mindset bahwa memang ia tidak memiliki pilihan lain. Sebelum diberi imatinib, Paulus juga pernah mencoba berbagai tanaman herba yang meski tak membuahkan hasil.

Dengan kondisi yang stabil meski mengidap CML, Paulus bisa tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, termasuk bekerja di lapangan. Ia pun tidak pernah dirawat di RS dan merasa seperti orang yang tak kena CML.

Kini, dengan prinsip 5R Paulus merasa kondisinya lebih baik lagi. 5R tersebut adalah Rutin berdoa dan bersyukur pada Tuhan, Rutin konsumi obat, Rutin kontrol ke dokter, Rutin menjalani pola hidup sehat, Rutin berbagi dan menopang teman-teman survivor.

"Sekarang kondisi saya sudah normal, ya ini semua berkat pertolongan Tuhan ya. Pernah lho saya nangis waktu lagi berdoa karena saya sadar bahwa Tuhan kasih cobaan nggak lebih dari kemampuan kita. Hidup kita kan di tangan Tuhan. Jadi ya kita memang harus berupaya. Selama masih hidup, berjuanglah," kata pria yang kini memiliki bisnis kuliner bersama keluarganya.

Baca juga: Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani (rdn/vit)

Berita Terkait