Gara-gara Dipencet-pencet, Benjolan di Payudara Kanan Lina Makin Besar

True Story

Gara-gara Dipencet-pencet, Benjolan di Payudara Kanan Lina Makin Besar

Nurvita Indarini - detikHealth
Senin, 10 Okt 2016 18:10 WIB
Gara-gara Dipencet-pencet, Benjolan di Payudara Kanan Lina Makin Besar
Foto: thinkstock
Jakarta - Benjolan di payudara Lina mulanya ditengarai hanya tumor jinak. Namun Lina rutin memencet-mencet benjolan itu dengan harapan bisa menghilang. Namun benjolan justru bertambah besar dan dari pemeriksaan diketahui merupakan kanker payudara stadium 2.

"2012 Memang ada benjolan di payudara kanan. Waktu periksa ke RS Pondok Indah, dokter menyarankan dibuang saja benjolannya. Tapi karena nggak sakit ya nggak saya buang," tutur Lina (48), pasien kanker payudara, dalam perbincangan dengan detikHealth di sela-sela pertemuan penyintas kanker payudara di Hotel Mercure, Ancol, beberapa waktu lalu.

Beberapa waktu kemudian, Lina menjalani mammografi, diketahui benjolan itu besarnya 1,8 cm. Pemeriksaan menunjukkan benjolan itu merupakan tumor jinak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah itu saya nggak care. Karena anak juga masih kecil dan saya nggak ada masalah juga. Tapi terus badan saya gampang capek. Saya pencet-pencet benjolan di payudara saya biar hilang, eh malah makin gede. Lalu suami minta saya untuk periksa," tutur Lina.

Pada 2015, Lina memeriksakan diri ke puskesmas dan dirujuk ke RSUD Cengkareng. Biopsi atas benjolan di payudara kanan Lina dilakukan. Namun hasil biopsi tidak segera diambilnya.

"Saya pending-pending buat ambil hasilnya. Sampai suatu kali saya mau besuk teman yang kanker usus, terus saya sempatkan untuk ambil hasil biopsi. Ternyata kanker stadium dua," kenang ibu beranak dua itu.

Baca juga: Menemukan Benjolan di Payudara? Ingat, Jangan Dipencet-pencet Ya

Mendapati diagnosis itu, Lina merasa seolah hidupnya tak lama lagi. Berbagai perasaan bercampur aduk. Menyesal, sedih, kecewa. Apalagi kalau dirinya ingat kedua buah hatinya.

"Saya shock, berhari-hari nggak bisa tidur. Tapi saya lalu berusaha menerima dan bangkit. Yang menguatkan itu teman saya, dia kanker usus stadium 4, pernah diprediksi umurnya tinggal tiga bulan, tapi sampai sekarang masih bertahan, masih kuat. Jadi saya juga harus kuat," tambah Lina.

"Jika mau nyesel, saya nyesel kenapa benjolan itu dulu nggak dibuang aja. Kenapa saya malah pencet-pencet. Kenapa saya nggak peduli. Tapi ya sudah, siap nggak siap harus dihadapi," imbuhnya.

Setelah operasi pengangkatan payudara kanannya, Lina harus menjalani kemoterapi. Mulai akhir November mendatang, dia juga telah dijadwalkan melakukan radiasi hingga 30 kali.

Soal penyakitnya ini, Lina memang terkesan menutupinya dari keluarga, teman dan tetangga-tetangganya. Tentu ada alasan di balik keputusannya ini. "Saya pusing kalau dengar orang nyaranin makan ini itu biar sembuh. Yang penting saya dapat support dari suami saya, dari sesama pasien kanker, dan menjalani pengobatan medis," tutur Lina yang dalam pengobatannya merasa sangat terbantu oleh BPJS.

Apa pesan Lina pada perempuan-perempuan Indonesia terkait kanker payudara? "Jangan takut untuk cek. Jangan takut berobat. Jangan remehkan hal kecil, karena itu bisa jadi masalah besar dan menyita perhatian kita seumur hidup," pesan Lina.

Baca juga: Infografis: Ragam Mitos Kanker Payudara dan Fakta di Baliknya

(vit/up)

Berita Terkait