Berawal dari permintaan sang ayah (kakek Sorayyah) agar Henny keluar dari kampusnya di Bandung dan pindah ke Jakarta. "Sempat kuliah 3 tahun, tapi suatu saat kakek sakit dan mama dibilangin kuliahnya pindah ke Jakarta. Kalau di Jakarta gratis karena kakek saya dosen," kisah Sorayyah kepada detikHealth usai Sarasehan Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Nasional 2016 di RS Jiwa Grhasia, Yogyakarta, Jumat (14/10/2016).
Apalagi Henny merupakan anak perempuan satu-satunya dari 7 bersaudara sehingga ia menjadi kesayangan dari sang ayah. Namun keinginan sang ayah dan Henny bertepuk sebelah tangan. Henny yang mencintai jurusannya itu bahkan bertekad membiayai kuliahnya sendiri demi bisa tetap meneruskan pendidikannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Jakarta, Henny mulai menutup diri dan lebih banyak berada di kamar. Sang ayah mengira putrinya hanya ngambek. Tetapi karena tak mau melanjutkan kuliah, Henny pun dinikahkan dengan ayah Sorayyah.
"Ternyata menurut ayah saya, sesudah menikah tahun 1991 itu mama mulai keluar gejala positif, sering marah-marah, mukul-mukul. Awalnya kan nggak mau ngomong, nggak mau mandi," lanjutnya.
Beberapa bulan setelah Henny menikah, sang ayah menghembuskan napas terakhirnya. Menurut Sorayyah, di situlah keluarga mulai menyadari ada yang tidak biasa pada diri Henny. "Itu mungkin jadi trigger-nya. Mama katanya sampai ngeloncatin jenazahnya opa, mama buka baju, goyang-goyang. Saat itu mama juga sudah mengandung saya," urainya.
Saat itu Henny hanya dikunci di dalam kamar. Ayah Sorayyah sendiri mulai jarang pulang ke rumah, dan setahun setelah gadis ini lahir, yaitu di tahun 1993, sang ayah resmi pergi dari rumah.
Ditinggal suami, kondisi Henny memburuk. Untunglah nenek Sorrayah alias ibunda Henny berkenan merawat Henny. Keadaan membaik bagi pasangan ibu dan anak ini ketika Sorayyah menginjak bangku Sekolah Dasar (SD) karena ada kerabat yang turut membantu biaya pendidikan. Namun Sorrayah harus meneruskan sekolah di Yogya, dan hal ini sempat membuatnya ragu karena artinya harus berpisah dari sang ibu.
"Kalau saya dipisahin, mama takut ngamuk. Bahkan dulu waktu TK, saya sekolah tapi mama ikut. Kartinian saya nggak pakai baju kebaya, malah mama yang pakai," tuturnya sambil tertawa.
Tetapi rencana itu terlaksana juga. Henny, ditemani oma Sorayyah, akhirnya dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa di Padang dan sempat dirawat selama lima tahun di sana.
"Kalau nggak salah pas saya kelas 4 SD akhir, mama saya kabur dari RS. Karena oma saya nangis-nangis nggak tahu gimana mencari, akhirnya saya pergi naik bus ke Padang," lanjutnya.
Selama tiga bulan, Sorayyah menghabiskan waktunya berkeliling Padang untuk menemukan sang ibu, tetapi hasilnya nihil. Nyaris putus asa, ia justru bertemu teman SMP Henny yang menyarankan agar gadis berambut panjang ini mencari mamanya di Jakarta.
Sang teman berasumsi Henny mungkin mencari Sorayyah ke Jakarta, sebab dia tak tahu jika putrinya ke Yogyakarta. "Langsung hari itu juga nyari bus ke Jakarta, dan ternyata mama memang ada di sana. Tapi udah nggak pakai baju, kulitnya gosong-gosong, rambutnya gimbal," tuturnya.
Sorayyah akhirnya memutuskan mencari rumah kontrakan di perbatasan Jakarta dan Bogor. Saat itu Sorayyah yang masih SD mulai bekerja karena ia sadar mereka tak mungkin membebani omanya terus-menerus.
Baca juga: Cerita Ibu yang 20 Tahun Membawa Anaknya Berobat Tapi Tak Ada Perkembangan
"Pas SMP mama sempat kabur lagi, pas malam takbiran. Itu juga karena nggak sengaja saya marahin waktu saya beres-beres rumah. Itu aku mikir Ya Allah aku jahat banget sama mama," tuturnya.
Sorayyah lagi-lagi mencari sampai ke Padang, Jakarta bahkan Bandung tetapi juga tak membuahkan hasil. Tak tahunya sang mama ada di Magelang dan dimasukkan ke RSJ Dr Soerojo Magelang. Sorayyah akhirnya bisa lebih tenang sembari melanjutkan sekolah di Yogyakarta, dan sebulan sekali menjenguk ibunya di rumah sakit.
"Di Soerojo itu belum stabil, tapi dia mulai mau memperhatikan diri. Biasanya nggak mau potong kuku, mandi itu harus dipaksa banget. Di situ dia mau mandi walaupun harus dikasih tahu dulu," paparnya.
Karena persoalan jarak dan waktu, Sorayyah mempertimbangkan untuk memindahkan sang ibu ke Yogyakarta, tepatnya ke RSJ Grhasia. "Lama-lama kan capek, waktu itu saya juga mulai mencoba bersosialisasi dengan orang, karena dari kecil itu temen nggak punya," imbuhnya.
Sorayyah yang masih duduk di bangku SMA, banting tulang untuk membiayai pengobatan sang ibu, apalagi saat itu belum ada jaminan kesehatan seperti BPJS. Syukurlah perjuangan itu tak sia-sia. Kurang dari setahun, keadaan Henny jauh membaik. Tiga tahun terakhir, ia sudah bisa berbicara layaknya orang normal walaupun kadang masih meracau. Namun Sorayyah mengatakan setidaknya sang mama tak lagi main kasar, sembari memperlihatkan bekas cakaran sang mama di lengan dan pipinya.
Baca juga: Kisah Walsilah Urus Sendiri Anaknya yang Alami Gangguan Saraf Otak
Meski demikian Sorayyah juga manusia. Sebagai caregiver dari sang ibu sejak kecil, ia juga pernah berada di titik terendah. "Banyak yang ngejekin saya. Jadi sempet saya pengen bunuh diri bareng, tapi akhirnya nggak jadi karena kasihan lihat mukanya mama," ujarnya sembari menahan air mata.
Di usia semuda ini, Sorayyah juga menjadi tulang punggung keluarga. Bila diingat-ingat, gadis ini sudah harus bekerja sejak masih SD, salah satunya dengan menjadi pembantu umum di sebuah rumah makan Padang selama tiga tahun.
"Sekarang kan udah ada BPJS, jadi saya tinggal memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.
Sorayyah tak lagi peduli apa kata orang terhadapnya. Baginya yang terpenting adalah kesejahteraan sang ibu. Di balik itu Sorayyah masih memendam pedih mengapa masih banyak orang yang memiliki stigma negatif terhadap ODGJ. (lll/vit)











































