Perjuangan Diana Saat Hamil: Suntik Obat Pengencer Darah 9 Bulan Nonstop

True Story

Perjuangan Diana Saat Hamil: Suntik Obat Pengencer Darah 9 Bulan Nonstop

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 24 Okt 2016 15:32 WIB
Perjuangan Diana Saat Hamil: Suntik Obat Pengencer Darah 9 Bulan Nonstop
Diana, Yasa, dan Abi (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Di tahun 2013, Diana Djintji (40) mengandung anak pertamanya. Namun, setelah usia kandungannya 6 bulan, berat badan si bayi dikatakan tidak sesuai. Dokter juga sempat berpikir bahwa Diana mengalami kekentalan darah.

Namun, suntikan pengencer darah yang diberi tidak membuahkan hasil dan di usia kandungan 28 minggu, Diana melahirkan prematur. Sayang, setelah dirawat di NICU selama 10 hari, sang bayi yang diberi nama Kayla dan lahir dengan berat 750 gram meninggal dunia. Bagi Diana dan suami, Yasa Kusuma (39), saat itu memakamkan Kayla bukanlah hal yang mudah.

Pasca meninggalnya Kayla, Diana masih merasakan kesedihan dan bahkan ia sering menangis. Nah, di tahun 2014, Diana mencoba prosedur bayi tabung. Berhasil, ia diketahui mengandung bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Saat prosedur itu, Diana memang mendapat suntikan obat pengencer darah sehingga kala itu, dokter hematologi pun turut menanganinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya juga sempat disuspect ada Anti-Nuclear Antibody (ANA) tapi dibilang nggak terlalu signifikan. Tapi, pas usia kehamilan 17 minggu, karena ada virus dan juga kekentalan darah, bayi yang laki-laki meninggal di dalam kandungan dan harus dilahirkan, waktu itu lewat persalinan normal" kata Diana saat berbincang dengan detikHealth.

Kala itu, kondisi bayi perempuan Diana terus dimonitor. Namun, saat usia kehamilan 20 minggu, si bayi menyusul kepergian saudara kembarnya kembali ke pangkuanNya. Keguguran untuk kedua kalinya, Diana pun sempat frustasi.

Kemudian, ia mencari berbagai informasi di internet dan menemukan bahwa di Singapura ada dokter yang menangani recurrent miscarriage. Diana dan Yasa pun bertolak ke Singapura. Di sana, Diana menjalani tes sampai-sampai darahnya diambil sebanyak 15 tube.

"Hasilnya dilihat ada yang namanya Natural Killer cells atau NK cells, aktif 15 persen. Jadi sel ini yang nyerang bayinya karena dianggap si bayi ini membahayakan. Ternyata masalahnya nggak cuma kekentalan darah aja tapi juga NK cells," tutur Diana.

Setelah itu, Diana kembali di Indonesia untuk menjalani prosedur bayi tabung di RS yang sama dengan prosedur bayi tabung sebelumnya. Setelah berhasil, Diana lalu kembali lagi ke Singapura. Saat itulah, selama 9 bulan ia mendapat suntikan obat pengencer darah selama 9 bulan nonstop.

"Saya di-treatment suntik obat pengencer darah dua kali sehari, selama 9 bulan. Waktu itu yang nyuntik suami di bagian perut. Ya pokoknya cari aja bagian yang nggak biru-biru. Mirip kayak orang suntik insulin gitu lah ya. Disuntiknya dengan jeda waktu 12 jam," kata Diana.

Baca juga: Yuk Kenali APS, si Penyebab Keguguran Berulang

Sang suami sempat tidak tega melihat Diana dan mencoba maklum jika sekali saja Diana tak menyuntikkan obat. Namun, karena Diana bertekad ingin memiliki momongan, ia tak sekali pun mau melewatkan menyuntikkan obat. Selain itu, dua kali seminggu Diana juga mendapat obat suntik penguat kandungan sampai usia kandungan 8 bulan.

Di awal kehamilan, Diana juga sempat mendapat Intravenous immunoglobulin (IVIg) melalui alat infus selama 2 jam untuk menekan antibodinya. Sehingga, antibodi Diana tidak terlalu tinggi dan tidak menyerang si bayi. Sempat ada rasa ngeri tapi lagi-lagi, tekad Diana untuk bisa memiliki anak membuatnya berhasil menepis rasa ngeri tersebut.

Selama hamil, Diana juga rutin melakukan USG tiap dua minggu sekali. Di akhir-akhir masa kehamilan, Diana sempat dikhawatirkan mengalami preeklampsia karena saat itu tekanan darahnya tinggi. Dengan monitor terus menerus, akhirnya kondisi Diana bisa tetap stabil sampai ia melahirkan si kecil I Gde Abinaya pada 8 November 2015.

Diana, Yasa, dan si kecil Abinaya bersama dokter yang menangani Diana (Foto: dok. pribadi)Foto: dok. pribadi
Diana, Yasa, dan si kecil Abinaya bersama dokter yang menangani Diana (Foto: dok. pribadi)


Sempat Bingung Mengalami Keguguran Berulang

Setelah dua kali keguguran, Diana mengaku sempat bingung mengapa ia sampai berulang kali keguguran. Apalagi, tidak ada gejala khas yang menunjukkan bahwa Diana mengalami pengentalan darah. Apalagi, keguguran yang ia alami terjadi setelah usia kandungan 6 bulan.

"Kalau yang saya tahu seringnya kan keguguran di 3 bulan pertama kehamilan ya. Kalau saya kok kenapa pas di akhir-akhir gitu, bingung jadinya," kata Diana.

Ia menambahkan, sebelum hamil dirinya sempat check up ke dokter di Singapura dan hasilnya normal. Ia pun berasumsi kekentalan darah dan kelainan autoimunnya muncul saat sedang hamil saja.

Kini, Diana juga bergabung dengan grup yang anggotanya memiliki masalah serupa, kekentalan darah yang berdampak pada kehamilan. Diana menekankan, saling dukung dan berbagi info dengan sesama pasien amat bermanfaat.

"Saya juga berpesan supaya para wanita lebih reaktif lagi kalau ke dokter. Apalagi kalau sudah keguguran lebih dari sekali. Dulu tuh saya ibaratnya keguguran ya terima aja gitu, nggak dicari tahu lagi kenapa bisa sampai berulang. Kalau ada riwayat keluarga dengan kekentalan darah, kalau mau hamil dicek dulu juga," tutur Diana.

Berangkat dari pengalamannya, ia berharap wanita dengan kelainan darah yang sedang hamil bisa mendapat penanganan dokter obgyn dan hematologi secara terintegrasi. Nah, kini setelah melalui perjuangan panjang untuk memiliki anak, apakah Diana berencana hamil lagi?

"Belum tahu ya. Apalagi saya tahu menjalani kehamilan sebelumnya juga berat banget. Sempat sih tanya ke dokter, katanya kalau hamil lagi kemungkinan nggak akan seberat pas hamil Abi. Tapi memang belum ada rencana he he he," pungkas Diana.

Baca juga: Awas! Darah Kental Bosa Bikin Stroke

(rdn/up)

Berita Terkait