Tersiksanya Wanita Ini Gara-gara 'Kecanduan' Mengkhayal

Tersiksanya Wanita Ini Gara-gara 'Kecanduan' Mengkhayal

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 02 Jan 2017 19:00 WIB
Tersiksanya Wanita Ini Gara-gara Kecanduan Mengkhayal
Foto: Ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Masing-masing orang mengkhayal, itu wajar saja terjadi. Bahkan, khayalan yang dimiliki bisa merangsang kreativitas. Namun, bagi wanita bernama Sara Waite ini, berkhayal adalah sebuah mimpi buruk.

"Intensitas khayalan saya dan bagaimana ini memengaruhi diri saya adalah hal yang tidak normal," ujar wanita 28 tahun yang tinggal di California ini, dilansir CNN.

Bagaimana tidak, ketika imajinasinya aktif, pikiran Waite akan membuatnya tetap berada di rumah. Sebab, Waite sudah terlalu asyik dengan khayalannya sendiri. Saat berkhayal, Waite juga menciptakan sosok khayalan yang ia temukan saat beraktivitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Waite menggambarkan melamunnya bak kecanduan yang menyakitkan, persis saat seseorang kecanduan obat yang membuat dia sulit mempertahankan pekerjaan dan hubungannya. Selama hidupnya, bekerja satu tahun di toko kelontong menjadi waktu bekerja terlama bagi Waite.

Sebab, si pemilik toko bermurah hati membiarkan Waite yang tiba-tiba pergi ketika khayalannya muncul, gugup, atau terlambat karena keasyikan berkhayal. Waite mengaku tahu jika lamunannya tidak nyata, tapi ia kesulitan melepaskan diri dari kecanduannya itu.

"Ini membuat saya terikat pada orang-orang dengan cara yang tidak realistis. Aneh sekali jika orang yang nyata ada di hidup saya juga lamunan saya memperlakukan saya tidak seperti yang ada di khayalan saya," tutur Waite.

Baca juga: Orang yang Sering Melamun Tandanya Punya Otak Tajam

Ia sendiri enggan meminta bantuan profesional karena menurutnya, belum ada kondisi pasti yang bisa menunjukkan diagnosis dirinya. Meskipun, ketika melakukan pencarian di internet, Waite menemukan orang yang mengalami hal serupa dengannya dan kondisinya disebut dengan maladaptive daydreaming.

Dikutip dari Medical Daily, Eli Somer, profesor psikologi klinis di University of Haifa, Israel mengatakan melamun ekstrem bisa dianggap sebagai gangguan mental. Dalam studinya, Somer menemukan pelamun maladaptif menghabiskan 57 persen dari waktunya untuk melamun.

Lamunan mereka pun umumnya lebih rumit dan aneh. Kemudian, sering melibatkan tokoh fiktif atau sejarah, selebriti, atau versi ideal dari diri mereka sendiri. Somer mengatakan pelamun maladiptif juga sering memiliki kondisi kesehatan mental yang lebih mendasar seperti tingginya tingkat attention-deficit dan gejala obsesif kompulsif.

Selain itu, lebih dari 80 persen pelamun maladaptif menggunakan aktivitas atau gerakan seperti menggoyangkan badan, mondar-mandir, dan berputar saat ia melamun.

"Karakteristik paling penting pelamun maladaptif yakni ada gangguan dalam hidup mereka. Di mana mereka lebih senang menghabiskan banyak waktunya untuk melamun bahkan tak tertarik untuk melakukan kegiatan lain," tutur Somer.

Baca juga: Anak Berkhayal Atau Berimajinasi, Apa Bedanya? (rdn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads