Lahir pada 5 Juni 1987, Angkie di masa kecil sebetulnya merupakan anak gadis normal yang baik-baik saja. Hanya saja semua berubah ketika di umur 10 tahun dirinya terkena malaria.
"Saya sempat demam tinggi karena malaria. Ketika itu diberi antibiotik ternyata ada efek samping yang tidak cocok," kata Angkie ketika ditemui pada peringatan Hari Pendengaran di Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (3/3/2017).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efek samping obat malaria yang kuat merusak fungsi pendengarannya hingga mendadak tuli. Karena pernah merasakan hidup normal, Angkie mengaku sempat kesulitan menerima kenyataan.
Bullying pernah diterima oleh Angkie. Namun berkat dukungan keluarga yang selalu mencintai dan mendorongnya agar bisa mandiri ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.
"Saya beruntung mendapat dukungan luar biasa sekali dari lingkungan. Orang tua saya adalah orang tua yang tidak ingin menunjukkan kesedihan pada saya sehingga saya bisa tumbuh menjadi sosok yang tangguh, merasa everything is okay enggak ada masalah," ungkap Angkie.
"Saya diajarkan untuk bagaimana kita jujur terhadap diri sendiri. Kalau kita bisa jujur dengan diri sendiri menerima apa adanya, maka cinta kasih di sekitar kita akan tumbuh dengan sendiri," lanjutnya.
Dengan kepribadian tangguh tersebut, Angkie memilih mengeyam pendidikan tinggi di bidang ilmu komunikasi. Sesuatu yang saat itu ia akui kontradiktif dengan kondisinya yang seorang tunarungu.
"Agak kontradiktif ya sudah tidak bisa mendengar tapi ikut di komunikasi... Keterbatasan saya bisa membuat lebih percaya diri," kata Angkie yang pada akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S2 komunikasi.
Setelah lulus Angkie pernah beberapa kali menjadi karyawan perusahaan besar. Namun ia merasa masih kurang puas dan ingin membantu penyandang disabilitas lain agar bisa mandiri.
Pada akhirnya bersama rekan Angkie pun mendirikan Thisable Enterprise di tahun 2011. Perusahaan tersebut bergerak dibidang pendidikan dan pemberdayaan terutama untuk para kaum difabel.
Baca juga: Kolaborasi Koki Tunanetra dan Asisten Autistik yang Inspiratif (fds/up)











































