Sabtu, 17 Jun 2017 09:03 WIB

Pria Ini Telinganya Selalu Basah, Tak Tahunya Cairan Otak yang Merembes

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Cairan yang keluar dari telinga Hoffman ternyata cairan otak, (Foto: Thinkstock) Cairan yang keluar dari telinga Hoffman ternyata cairan otak, (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Mark Hoffman mengaku sudah menghabiskan ribuan bola kapas untuk membersihkan cairan yang keluar dari dalam telinganya. Ia pun telah mendatangi puluhan dokter untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tetapi Hoffman tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Insiden bermula di tahun 2006, saat Hoffman bangun dari tidur dan telinga kanannya mengeluarkan cairan sampai membasahi bantalnya. Awalnya ini hanya terjadi sesekali, tetapi setelah sekian lama cairan yang keluar dari telinganya makin banyak dan seolah tak bisa dihentikan.

"Ini misteri bagi saya selama 10 tahun dan tak ada yang tahu ini apa," katanya kepada Today.com.

Jawabannya baru didapatkan pria berusia 53 tahun itu tahun lalu. Secara mengejutkan dokter yang memeriksanya mengatakan itu bukan cairan telinganya melainkan cairan otaknya yang merembes keluar karena kebocoran di tengkorak Hoffman.

Dr Rick Nelson, ahli kelainan saraf dari IU Health dan Indiana University School of Medicine menerangkan, kondisi semacam ini diduga disebabkan oleh obesitas atau kegemukan.

Baca juga: Hidung Berair Dikira Alergi, Otak Pria Ini Ternyata Bocor

Bagaimana ini bisa terjadi? Cerebrospinal fluid atau cairan otak sebenarnya terbungkus dalam sebuah kantung yang sangat kuat di sekeliling otak dan sepanjang sumsum tulang belakang.

Tetapi kebocoran bisa terjadi jika ada lubang di kantung itu atau di tengkorak akibat operasi mayor atau trauma yang kuat seperti kecelakaan. Hanya saja untuk kasus seperti Hoffman, mereka mengalami kebocoran cairan otak yang spontan karena tengkoraknya menipis.

Ini sebenarnya jarang terjadi. Dr Nelson mengungkap di awal tahun 2000-an, ia hanya melakukan dua kali operasi untuk memperbaiki kebocoran seperti itu. Tetapi belakangan ia bisa melakoni prosedur serupa sebanyak 2-5 kali dalam sebulan.

"Ini mulai banyak ditemukan di AS. Jumlah prosedurnya sendiri naik dua kali lipat dalam kurun 10 tahun terakhir," ungkapnya.

Banyak pakar yang belum mengetahui apa sebabnya. Namun di samping kelebihan berat badan, sleep apnea diyakini juga memainkan peranan penting. "Sebab ketika seseorang tiba-tiba berhenti bernapas di tengah malam, tekanan di kepala akan naik dan disitulah ia mulai mengikis tengkorak yang bersangkutan," terang Dr Nelson.

Dr Nelson menambahkan gejalanya bisa berupa keluarnya cairan dari satu lubang telinga atau keduanya. Namun sejatinya kondisi ini tidak membahayakan, kecuali jika sampai terjadi infeksi. Untuk itu kebocoran harus segera diatasi dengan operasi.

Hoffman sendiri akhirnya menjalani operasi selama tiga jam pada bulan Desember lalu dan sejak saat itu, tak ada cairan yang keluar dari telinganya. "Rasanya lega sekali," ujar pria asal Akron, Indiana tersebut.

Baca juga: Dikira Gejala Pilek, Ternyata Cairan Otak Meler Lewat Hidung (lll/up)