Gara-gara PMS Ekstrem, Wanita Ini Memilih Operasi Angkat Rahim

Gara-gara PMS Ekstrem, Wanita Ini Memilih Operasi Angkat Rahim

Widiya Wiyanti - detikHealth
Selasa, 11 Jul 2017 13:02 WIB
Gara-gara PMS Ekstrem, Wanita Ini Memilih Operasi Angkat Rahim
Ilustrasi nyeri haid (thinkstock)
Jakarta - Seorang ibu dari dua anak harus menjalani histerektomi pada usia 28 tahun, yakni pengangkatan rahim atau uterus dengan metode pembedahan. Prosedur ini dilakukan karena PMS (Premenstrual Syndrome) yang tak tertahankan dialaminya lebih dari satu dekade.

Selama dua minggu setiap bulan ia harus merasakan perubahan mood yang sangat buruk. Mulai dari sering memecahkan piring sampai hampir berakibat kehilangan pekerjaan.

"Dalam dua minggu sebelum menstruasi, kemarahan saya tidak terkendali. Saya melemparkan remote TV ke seberang ruangan dan menghancurkan kereta bayi karena membantingnya terlalu keras," ujar Nicola James dikutip dari Daily Mail.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perilaku ini kerap kali disebut PMS, tetapi ternyata gejala yang berlebihan seperti itu lebih tepat disebut PMDD. Apa itu PMDD?

Baca juga: Premenstrual Dysphoric Disorder Disebut Berkaitan dengan Gangguan Sel

PMDD atau Premenstrual Dysphoria Disorder adalah gangguan seperti PMS dalam versi yang lebih berat. PMDD mempengaruhi sekitar satu dari 20 wanita dan memiliki gejala termasuk sakit kepala dan sakit perut, kelelahan ekstrem, insomnia dan pingsan.

Tanda-tanda fisik diperparah oleh gejala psikologis, termasuk perubahan suasana hati yang penuh kekerasan, pikiran untuk bunuh diri dan kurangnya pengendalian diri.

Gejala yang dialami James dimulai dari saat pertama kali ia minum pil KB di usia 17 tahun. "Saya selalu sangat menderita dengan perubahan hormonal. Ketika saya pertama kali minum pil, saya menjadi sangat depresi," kata James, wanita asal Bridgend, Wales, Inggris.

Setiap bulannya James berubah menjadi agresif dan tempramental, kemarahannya tidak tidak terkendali. Untungnya, suaminya Rhys tetap menerima keadaannya yang seperti itu.

Baca juga: Sindrom Pra Menstruasi Memburuk, Bisa Jadi Kucing Penyebabnya

Lama-kelamaan James menjadi sangat tertekan sehingga dia bahkan mempertimbangkan untuk bunuh diri, karena hubungannya pun mengalami tekanan yang sangat besar.

"Saya akan mengalami dua minggu kemarahan setiap bulan, diikuti dengan periode 10 hari. Saya hanya memiliki empat hari normal, sebelum suasana hati berubah dan kemarahan kembali," keluhnya.

Nyeri tak tertahankan saat menstruasi mengharuskan beberapa wanita minum pereda nyeriNyeri tak tertahankan saat menstruasi mengharuskan beberapa wanita minum pereda nyeri (Ilustrasi: Thinkstock)


Pada akhirnya, ia mengunjungi dokter untuk meneliti gejala PMDD yang dialaminya. Dan dokter menyarankan untuk mengangkat rahimnya. Ini berarti dia tidak akan bisa mengandung anak lagi.

Prosedur histerektomi ini dilakukan pada bulan Januari di rumah sakit Queen Charlotte's and Chelsea, pusat kota London.

"Karena saya sudah menjalani histerektomi, sungguh menakjubkan. Saya menjalani kehidupan normal, saya telah mendapatkan hidup saya kembali," pungkasnya.

Baca juga: Menstruasi Bikin Depresi? Hati-hati Kena Premenstrual Dysphoric Disorder

(wdw/up)

Berita Terkait