Jumat, 01 Des 2017 13:30 WIB

Pengakuan Penderita HIV Korban Perkawinan Usia Anak

Imam Suripto - detikHealth
Tanti menceritakan pengalaman kelamnya karena menikah dini. (Foto: Imam Suripto) Tanti menceritakan pengalaman kelamnya karena menikah dini. (Foto: Imam Suripto)
Brebes - Perkawinan usia anak memiliki dampak negatif bagi yang menjalaninya. Selain soal kemiskinan, pelaku kawin muda juga rawan menjadi korban kekerasan, perdagangan manusia dan juga rawan terkena HIV.

Sebut saja namanya Tanti, usia 31 tahun. Dia menceritakan perjalanan hidupnya yang kelam akibat menikah usia dini.

"Saya menikah usia 14 tahun karena dijodohkan. Sebenarnya tidak boleh tapi saya beli umur agar umurnya mencukupi. Ini pengalaman pribadi saya sebagai pelajaran saja," ujar Tanti saat dihubungi Jumat (1/12/11/2017) siang.

Tanti menikah tahun 2000 karena dijodohkan dengan seorang pria berusian 19 yang masih tetangga. Kedua orang ini menikah tanpa ada persiapan fisik dan mental sama sekali. Untuk makan sehari hari mereka hanya mengandalkan dadi uluran orang tua.

Beberapa lama menikah, Tanti sering cekcok dengan suami karena urusan ekonomi keluarga. Sang suami menyarankan agar Tanti bekerja sebagai pelayan warteg di Jakarta agar bisa mendapatkan penghasilan. Sementara suami bekerja serabutan di kampung.

Baca juga: Hari Aids Sedunia 2017: Kenali 3 Tahap Gejala HIV-AIDS

"Saya mengira mau dipekerjakan di warung makan (warteg), tapi ternyata saya dikirim ke Batam di sebuah tempat hiburan. Saya bingung dan terus menangis. Tanya sana sini ternyata si mucikari bilang kalau saya sudah dijual oleh suami saya Rp.5 juta," kata Tanti.

Sejak saat itu, setiap hari dipaksa melayani para hidung belang. Dia tidak menyangka akan menjadi PSK di Batam. Bertahun tahun selama menempati rumah bordir ini, Tanti sempat berkenalan dengan pelanggan yang dianggapnya baik hati.

Karena sering bertemu, Tanti mulai berani mengungkapkan keinginannya agar cepat keluar dari tempat maksiat tersebut. Hanya saja, keinginan itu tidak bisa terlaksana karena terhalang biaya tebusan ke mucikari. Agar bisa keluar, Tanti harus mengganti uang sebesar Rp.10 juta, atau dua kali lipat dari harga yang pernah dibayar mucikari ke suaminya.

"Saat saya cerita, tanpa disangka dia mau bantu. Dia (pelanggan) ini mau mengeluarkan uang Rp 10 juta untuk menebus agar bisa pulang ke kampung." ucapnya mengenang kejadian yang pernah dialami.

Namun niat baik Tanti tidak mendapat respon positif dari pihak keluarga dan masyarakat sekitar. Mereka menolak Tanti karena dianggap sebagai perempuan kotor.

Merasa diasingkan keluarga, Tanti pun tidak punya pilihan lain untuk bisa bertahan hidup kecuali harus kembali ke dunia prostitusi. Dia pun memutuskan pergi ke Jambi atas saran dari seorang teman. Hari harinya kembali diisi dengan melayani para pria hidung belang.

Perang batin yang dialami Tanti selama menjalani PSK menuntunnya untuk pulang ke kampung dengan resiko apapun. Selama hidup di kampung dia bertemu Tarjo (nama samaran), pria yang mau menerima Tanti apa adanya.

Sebagai mantan PSK, wanita ini mengaku berbahagia menjalani kehidupan baru sebagai istri yang sah. Kebahagiaan pasangan ini makin lengkap, setelah dikaruniai anak perempuan. Tanti merasa sudah lengkap kebahagiaan sebagai seorang wanita.

Awal mula Tanti terdeteksi mengidap HIV saat anaknya, sebut saja Dinda, sering jatuh sakit. Saat usianya 14 bulan, beberapa kali Dinda dirawat di sebuah rumah sakit di Brebes. Petugas RS kemudian melakukan pemeriksaan secara menyeluruh karena sakit yang diderita Dinda ini tak kunjung sembuh. Dari test laboratorium ini disimpulkan bahwa Dinda menderita HIV.

Pemeriksaan dilanjutkan dengan test darah kedua orang tua Dinda, yakni Tanti dan Tarjo, suaminya. Hasil pemeriksaan lanjutan, Tanti positif HIV sedangkan Tarjo negatif. Kini kehidupan keluarganya dalam pengawasan Pemkab Brebes.

"Saya adalah korban perkawinan anak, sehingga sampai terjerumus ke dunia prostitusi. Anak saya kena HIV karena ulah saya," tutupnya.

Untuk mencegah terjadinya perkawinan anak, Tanti pernah dihadirkan dalam sebuah kampanye bertema Stop Perkawinan Anak digelar di Kabupaten Brebes beberapa waktu lalu. Kegiatan ini digagas oleh Dinas Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DP3KB) Kabupaten Brebes. Acara ini diikuti oleh para pelajar dari tingkat SD sampai SMA dan para santri.

Praktik menikah dini tidak disarankan karena berisiko membawa dampak negatif.Praktik menikah dini tidak disarankan karena berisiko membawa dampak negatif. (Foto: Imam Suripto)


Untuk memberikan gambaran tentang dampak negatif perkawinan anak kepada peserta, Tanti menceritakan semua pengalamannya di hadapan peserta. Dia berpesan, remaja di Brebes untuk tidak mengikuti jejaknya. Perkawinan anak itu banyak dampak negatifnya. Dirinya mengidap HIV, secara tidak langsung karena menikah di usia muda.

Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan DP3KB Brebes, Rini Pujiastuti mengatakan, remaja harus waspada terhadap hal hal yang bisa menjerumuskan mereka ke perkawinan usia anak. Misalnya harus menghindari pergaulan bebas.

Baca juga : Aktivitas Seksual Jadi Penyebab Utama Penularan HIV di Indonesia (fds/fds)
News Feed