Kisah Orang-orang Synaesthesia, Bisa Merasakan Warna dan Musik

Kisah Orang-orang Synaesthesia, Bisa Merasakan Warna dan Musik

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Selasa, 27 Mar 2018 16:09 WIB
Kisah Orang-orang Synaesthesia, Bisa Merasakan Warna dan Musik
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Apa rasa lagu 'Shape of You' dan apa rasa warna biru? Mungkin kamu akan kebingungan ketika ditanya soal hal tersebut. Tapi, yang dialami orang-orang spesial ini agak unik. Mereka dapat merasakan warna, lagu, bahkan melihat warna dari hari yang ia jalani.

Disebut synaesthesia, orang yang mengidap kondisi ini bisa merasakan sensasi unik karena saraf indra-indranya saling berhubungan kuat di otak. Ilmuwan dari Australian National University (ANU) yang meneliti fenomena ini mengatakan orang dengan synaesthesia biasanya kreatif.

"Stimuli yang umum saja seperti nama hari dalam minggu atau bulan dalam tahun dapat memicu warna tertentu yang bisa dilihat orang dengan synaesthesia," ujar ketua studi, Stephanie Goodhew seperti dikutip dari ABC Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini kisah beberapa di antara mereka.



Melihat warna pada hari, rasa sakit, dan lagu

Foto: ilustrasi/thinkstock
Sarah (32) asal Sydney melihat kata, angka, hari yang berwarna. Ia bahkan bisa melihat rasa sakit dalam warna, begitu juga dengan lagu (Ed Sheeran Shape of You, misalnya yang ia sebut berwarna oranye, dengan flek hitam, kuning dan merah muda).

Ketika dia sedang belajar membaca, ia melihat setiap huruf dengan warna tertentu.

"Saat guruku menulis 'Look' di papan tulis, 'L' berwarna kuning, 'O' berwarna merah muda dan 'K' cokelat. Mereka tidak pernah berubah," katanya seperti dikutip dari Body+Soul.

Uniknya, ia baru menyadari hal berbeda yang ia miliki ketika berusia 8 tahun.

"Aku ingat bertanya pada ayahku apa warna hari Minggu-nya, karena hariku berwarna cokelat... Kurasa dia sedikit bingung, tetapi mengatakan jika dia harus memilih dia memilih hijau," kisah Sarah.

Saat Sarah berusia 17 tahun, untuk pertama kalinya ia mengetahui sebutan dari kondisinya tersebut. Saat itu ia berada di kelas sastra dan menuturkan kepada seseorang bahwa kata-kata yang diucapkan olehnya mengeluarkan warna.

"Sontak seisi kelas mendiskusikan betapa anehnya ini dan meneriakkan kata-kata acak kepadaku sehingga aku bisa memberi tahu mereka apa warna kata itu. Aku sedikit malu tentang hal itu dan tidak menyadari bahwa ini adalah hal yang tidak biasa, jadi aku mencari tahu secara online dan menemukan 'synaesthesia'," ungkap Sarah.

Mencicipi rasa warna

Foto: ilustrasi/thinkstock
Renae (35) juga mengidap kondisi sinestesia sepanjang hidupnya, tetapi ia baru sadar saat berusia 25 tahun bahwa dia berbeda. Peristiwa itu terjadi saat ia berada di klub malam dan meminta bartender untuk membuatnya minuman. Ketika dia bertanya rasa apa yang dia suka, dia mengatakan 'rasa biru'.

"Dan dia berkata, 'Apa itu rasa biru?'"

"Aku berkata, 'ya biru, rasa itu biru'. Kemudian dia menatapku seolah aku benar-benar aneh. Dalam pikiranku aku seperti, 'tunggu dulu, bagaimana orang tidak tahu seperti apa rasanya biru?'" tutur Renae.

Dalam gambarannya rasa 'biru' adalah seperti perpaduan susu cokelat, kayu manis dan rempah-rempah.

Rasa dari kata? James Wannerton yang tahu

Foto: ilustrasi/thinkstock
Setiap kali dia mendengar atau membaca sebuah kata, dia bisa merasakannya. Kisah James Wannerton terungkap dalam sebuah wawancara pada tahun 2011. Dia ingat saat itu ia duduk di perkumpulan sekolah di mana dia membaca doa setiap pagi.

"Itu (kata-kata yang ia ucapkan) memiliki rasa daging renyah dan sangat tipis," kisahnya.

Hal menarik lainnya, James Wannerton juga merasakan sensasi yang sangat nyata dari kata-kata yang ia ucapkan.

"Kata itu seperti meneteskan rasa ke lidahku. Aku bisa mencicipi rasa, suhu dan teksturnya," pungkasnya.
Halaman 2 dari 4
Sarah (32) asal Sydney melihat kata, angka, hari yang berwarna. Ia bahkan bisa melihat rasa sakit dalam warna, begitu juga dengan lagu (Ed Sheeran Shape of You, misalnya yang ia sebut berwarna oranye, dengan flek hitam, kuning dan merah muda).

Ketika dia sedang belajar membaca, ia melihat setiap huruf dengan warna tertentu.

"Saat guruku menulis 'Look' di papan tulis, 'L' berwarna kuning, 'O' berwarna merah muda dan 'K' cokelat. Mereka tidak pernah berubah," katanya seperti dikutip dari Body+Soul.

Uniknya, ia baru menyadari hal berbeda yang ia miliki ketika berusia 8 tahun.

"Aku ingat bertanya pada ayahku apa warna hari Minggu-nya, karena hariku berwarna cokelat... Kurasa dia sedikit bingung, tetapi mengatakan jika dia harus memilih dia memilih hijau," kisah Sarah.

Saat Sarah berusia 17 tahun, untuk pertama kalinya ia mengetahui sebutan dari kondisinya tersebut. Saat itu ia berada di kelas sastra dan menuturkan kepada seseorang bahwa kata-kata yang diucapkan olehnya mengeluarkan warna.

"Sontak seisi kelas mendiskusikan betapa anehnya ini dan meneriakkan kata-kata acak kepadaku sehingga aku bisa memberi tahu mereka apa warna kata itu. Aku sedikit malu tentang hal itu dan tidak menyadari bahwa ini adalah hal yang tidak biasa, jadi aku mencari tahu secara online dan menemukan 'synaesthesia'," ungkap Sarah.

Renae (35) juga mengidap kondisi sinestesia sepanjang hidupnya, tetapi ia baru sadar saat berusia 25 tahun bahwa dia berbeda. Peristiwa itu terjadi saat ia berada di klub malam dan meminta bartender untuk membuatnya minuman. Ketika dia bertanya rasa apa yang dia suka, dia mengatakan 'rasa biru'.

"Dan dia berkata, 'Apa itu rasa biru?'"

"Aku berkata, 'ya biru, rasa itu biru'. Kemudian dia menatapku seolah aku benar-benar aneh. Dalam pikiranku aku seperti, 'tunggu dulu, bagaimana orang tidak tahu seperti apa rasanya biru?'" tutur Renae.

Dalam gambarannya rasa 'biru' adalah seperti perpaduan susu cokelat, kayu manis dan rempah-rempah.

Setiap kali dia mendengar atau membaca sebuah kata, dia bisa merasakannya. Kisah James Wannerton terungkap dalam sebuah wawancara pada tahun 2011. Dia ingat saat itu ia duduk di perkumpulan sekolah di mana dia membaca doa setiap pagi.

"Itu (kata-kata yang ia ucapkan) memiliki rasa daging renyah dan sangat tipis," kisahnya.

Hal menarik lainnya, James Wannerton juga merasakan sensasi yang sangat nyata dari kata-kata yang ia ucapkan.

"Kata itu seperti meneteskan rasa ke lidahku. Aku bisa mencicipi rasa, suhu dan teksturnya," pungkasnya.

(ask/up)

Berita Terkait