Disebut synaesthesia, orang yang mengidap kondisi ini bisa merasakan sensasi unik karena saraf indra-indranya saling berhubungan kuat di otak. Ilmuwan dari Australian National University (ANU) yang meneliti fenomena ini mengatakan orang dengan synaesthesia biasanya kreatif.
"Stimuli yang umum saja seperti nama hari dalam minggu atau bulan dalam tahun dapat memicu warna tertentu yang bisa dilihat orang dengan synaesthesia," ujar ketua studi, Stephanie Goodhew seperti dikutip dari ABC Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat warna pada hari, rasa sakit, dan lagu
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Ketika dia sedang belajar membaca, ia melihat setiap huruf dengan warna tertentu.
"Saat guruku menulis 'Look' di papan tulis, 'L' berwarna kuning, 'O' berwarna merah muda dan 'K' cokelat. Mereka tidak pernah berubah," katanya seperti dikutip dari Body+Soul.
Uniknya, ia baru menyadari hal berbeda yang ia miliki ketika berusia 8 tahun.
"Aku ingat bertanya pada ayahku apa warna hari Minggu-nya, karena hariku berwarna cokelat... Kurasa dia sedikit bingung, tetapi mengatakan jika dia harus memilih dia memilih hijau," kisah Sarah.
Saat Sarah berusia 17 tahun, untuk pertama kalinya ia mengetahui sebutan dari kondisinya tersebut. Saat itu ia berada di kelas sastra dan menuturkan kepada seseorang bahwa kata-kata yang diucapkan olehnya mengeluarkan warna.
"Sontak seisi kelas mendiskusikan betapa anehnya ini dan meneriakkan kata-kata acak kepadaku sehingga aku bisa memberi tahu mereka apa warna kata itu. Aku sedikit malu tentang hal itu dan tidak menyadari bahwa ini adalah hal yang tidak biasa, jadi aku mencari tahu secara online dan menemukan 'synaesthesia'," ungkap Sarah.
Mencicipi rasa warna
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
"Dan dia berkata, 'Apa itu rasa biru?'"
"Aku berkata, 'ya biru, rasa itu biru'. Kemudian dia menatapku seolah aku benar-benar aneh. Dalam pikiranku aku seperti, 'tunggu dulu, bagaimana orang tidak tahu seperti apa rasanya biru?'" tutur Renae.
Dalam gambarannya rasa 'biru' adalah seperti perpaduan susu cokelat, kayu manis dan rempah-rempah.
Rasa dari kata? James Wannerton yang tahu
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
"Itu (kata-kata yang ia ucapkan) memiliki rasa daging renyah dan sangat tipis," kisahnya.
Hal menarik lainnya, James Wannerton juga merasakan sensasi yang sangat nyata dari kata-kata yang ia ucapkan.
"Kata itu seperti meneteskan rasa ke lidahku. Aku bisa mencicipi rasa, suhu dan teksturnya," pungkasnya.
Halaman 2 dari 4











































