Penyintas kanker kolorektal yang sebelumnya berprofesi sebagai seniman ini mengaku bahwa ia sering mengonsumsi makanan kaya serat seperti buah-buahan dan sayuran. Namun di tahun 2013 lalu, ia justru mengalami masalah pencernaan.
Awalnya, Umbu merasa kesulitan buang air besar (BAB), ia lalu berusaha mencari obat pencahar. Diakuinya obat pencahar tersebut memang menolong kesulitannya buang air besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umbu berusaha untuk tak panik saat itu, ia tetap jongkok dan tidak buru-buru berdiri. Saat pendarahannya berhenti, ia dibantu oleh istrinya pergi ke rumah sakit terdekat.
Dokter yang memeriksa melakukan prosedur colok dubur, ketika itu Umbu masih diduga terkena wasir. Ia diinapkan sekitar 3 hari dan diperbolehkan pulang.
Didiagnosis kanker kolorektal
Setelah itu, BAB Umbu kembali normal seperti biasanya. Tapi dua minggu kemudian, ia kembali mengalami pendarahan dan langsung memeriksakan ke dokter.
"Saya pindah ke RS yang lebih besar, lalu kolonoskopi dan ketahuan 5 senti dari dubur ada kanker. Yang tahu duluan istri saya, saya belum tahu tapi saya tahu ada yang nggak bagus."
Ia mengaku saat diberitahu oleh istrinya ia tetap tenang. Bahkan ia mengatakan lebih panik apabila jantungnya yang bermasalah.
Oleh dokter ia disarankan untuk menjalani operasi, namun karena rumah sakit tersebut tidak dapat melakukan prosedur tersebut, ia kembali dirujuk ke rumah sakit besar lainnya. Umbu mengungkap ia dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Di RSCM, Umbu harus menjalani operasi kolostomi untuk mengangkat kanker di usus besarnya. Namun sebelum dioperasi, dokter menyarankannya untuk menggunakan kantong stoma karena ketika bagian usus yang dipotong untuk mengangkat jaringan kanker akan sulit disambung kembali dan bisa menyebabkan bocor.
Mengenakan kantong stoma
Sebagian pengidap kanker kolorektal harus memakai kantong di perut untuk pembuangan kotoran. Ini kisah Umbu, salah satu pasien yang harus hidup 'berkantong'. Foto: Frieda/detikHealth |
Akhirnya Umbupun bersedia dan menjalani operasi tersebut. Ia mengenakan kantong stoma di perut bagian kirinya sejak saat itu dan mengaku pola hidupnya menjadi berubah.
Misalnya saat hendak bepergian jauh ia harus merencanakannya dengan sangat matang. "Ada toilet enggak, bersih enggak. Harus antisipasi gimana membersihkan kantong tersebut, gimana caranya agar kantong tidak bocor," kata Umbu yang kini berusia 62 tahun.
Meski repot, Umbu mengaku tak begitu terganggu dengan perubahan yang dibawa oleh kantong stoma ini. "Masalahnya bagaimana kita berdamai dengan situasi yang baru. Kalau kita menerima kenyataan ya biasa aja. Sugesti diri 'kamu tidak sakit'," lanjutnya dengan mantap.
Selain itu, Umbu juga harus mengikuti pengobatan kemoterapi selama 6 siklus, namun baru 4 siklus ia jalani hingga kini. Alasannya karena ia tak kuat efek dari kemoterapi yang menyebabkannya sesak di dada, selain efek-efek yang lain seperti mual, demam, atau pusing.
Kantong stoma yang kini menjadi bagian dari hidup Umbu masih ia peroleh dengan bantuan dari YKI. Ia mengaku tidak terlalu kesulitan mencari kantong, karena satu kantong ia perkirakan bisa digunakannya selama sekitar 10 hari.
Ia menyebutkan masih banyak teman-teman pengidap kanker kolorektal yang kesulitan. "Yang lain itu mereka ada yang sehari sekali harus ganti, ada yang dua hari harus ganti. Padahal jatah yang dipakai kan cuma dikit untuk sebulan."
Ayah dari dua anak ini berharap ke depannya agar Indonesia dapat memproduksi kantong stoma sendiri, karena hingga kini kantong stoma yang dijual di apotek masih dikirim dari luar negeri.
(Frieda Isyana Putri/up)












































Sebagian pengidap kanker kolorektal harus memakai kantong di perut untuk pembuangan kotoran. Ini kisah Umbu, salah satu pasien yang harus hidup 'berkantong'. Foto: Frieda/detikHealth