Senin, 07 Mei 2018 20:20 WIB

Dona Rivana, Pengidap Talasemia yang Tak Ingin Wariskan Penyakitnya

Nabilla Nufianty Putri - detikHealth
Dona sudah 30 tahun berjuang dengan kondisi talasemia. (Foto: Nabilla Nufianty Putri) Dona sudah 30 tahun berjuang dengan kondisi talasemia. (Foto: Nabilla Nufianty Putri)
Jakarta - Talasemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang mana sel darah merah mudah pecah. Penyakit itulah yang dalam 30 tahun terakhir berada di tubuh Dona Rivana, seorang pria asal di Condet, Jakarta Timur.

Bersama istri dan anak-anaknya, kini Dona membanting setir dari pegawai swasta menjadi wirausahawan. Penyakit yang ia idap tak membuatnya patah semangat dalam menjalani kehidupan.

Cerita Dona dimulai dari umur 4,5 tahun, kala itu ia mengaku sempat mengalami demam. Sama seperti anak-anak yang lain, hanya diberi obat akan tetapi tak kunjung sembuh hingga beberapa minggu dirujuk ke dokter spesialis anak. Dan di situlah mulai pemeriksaan lebih lanjut yang ternyata ia didiagnosa memiliki penyakit talasemia mayor. Sejak saat itulah ia pertama kali melakukan tranfusi darah

Penyakit Dona merupakan penyakit gen keturunan atau ras. Orangtuanya memang membawa gen talasemia, bahkan ibunya memiliki gen kuat pembawa talasemia dibanding bapaknya.

Kontrol setiap bulan sudah menjadi hal yang biasa dijalani oleh Dona. ia sudah merasa bahwa Rumah Sakit itu adalah rumah kedua baginya. Di sana ia bisa membuat semangat baru dengan teman-teman sependeritaan dalam hidup, hingga ia menamatkan kuliah dan mulai mencari pekerjaan.

Bahkan kini hal terberat baginya adalah kelasi besi, yang harus ia lakukan setiap hari karena terlalu banyak kandungan zat besi yang masuk akibat tranfusi darah selama 5 hari seminggu.



Pertama kali melamar pekerjaan, ia selalu menjelaskan bahwa ia seorang penderita talasemia, dengan segala kekurangan ia mampu bekerja semaksimal mungin.

"Saya bisa melakukan semua pekerjaan tapi mohon dimaklumi karena setiap bulan saya harus izin setengah hari untuk transfusi dan segala macam. Akhirnya perusahaan pertama menerima," ujarnya.

Dona mengaku sempat beberapa kali pindah pekerjaan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi wiraswasta. Ia mengaku memilih hal tersebut karena ia merasa dengan berwirausaha memiliki waktu lebih untuk keluarga dan kesehatan juga ada.

Harapan terbesarnya adalah memutus mata rantai talasemia. Dimulai dari anaknya bisa menikah dengan seseorang yang bukan pembawa sifat talasemia. Jika nanti anaknya menikah dengan pembawa sifat talasemia, maka anaknya harus mengerti dengan benar apa itu talasemia.



Dona juga mengenalkan apa itu talasemia pada anak-anaknya, mulai dari kontrol setiap bulan ia selalu mengajak anaknya secara bergantian. Dengan begitu anaknya tau apa yang diidap orangtuanya dan berharap anak-anaknya bisa memilih pasangan yang bukan pembawa talasemia.

Harapan Dona adalah anaknya tidak menikah dengan pembawa sifat talasemia.Harapan Dona adalah anaknya tidak menikah dengan pembawa sifat talasemia. Foto: Nabilla Nufianty Putri


"Saya suka membawa anak saya yang berumur 4 dan 5 tahun secara bergantian, saya bawa ke Rumah Sakit pada saat saya transfusi. Supaya mereka kenal lingkungan talasemia dan lingkungan saya. Jadi jika saya ke lab, disuntik, tiduran dan mereka cerita ke orang lain, membuat saya senang mengedukasikan sesuatu ke mereka," ujar Dona.

Tidak hanya itu, sebelum menikah Dona juga membawa pacarnya untuk cek skiming. Itu semata-mata untuk sosialisasi ke pacaranya yang terdahulu, ia tak memikirkan apakah nantinya akan menikah atau tidak, niatnya memang murni untuk memutus mata rantai talasemia mayor.

Dona mengajak siapapun untuk lebih mengenal apa itu talasemia, dan melakukan pencegahan dengan cara skiming. Karena menurutnya hanya dari kita sendiri yang bisa memutus mata rantai talasemia.

Baca juga: (up/up)