Sujaya, suaminya, menjadi yang paling antusias mencari jawaban dan bantuan agar kakinya dapat kembali berjalan. Menggendong dari kasur dan bahkan membantu Nurjannah dalam menjalani kegiatan sehari-harinya ia lakukan tanpa mengeluh.
"Ada suatu ketika saya lagi duduk, mau menjahit gitu ya pakai kain licin banget terus sering jatoh. Nah suami saya itu langsung ambilin lagi taruh di meja. Pokoknya di manapun saya suami selalu berada di sini (menunjuk di belakang punggung)," kata Nurjannah kepada detikHealth di kediamannya di Bogor, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suaminya selalu mendampingi Nurjannah bahkan ketika masuk usia pensiun. Saking sayang, ia bilang, pernah suatu hari ia menyeletuk ingin suatu makanan dan suaminya tiba-tiba mencarikan makanan tersebut untuknya padahal saat itu tengah malam.
Namun ia ternyata pergi lebih dulu meninggalkan Nurjannah dengan tiga orang putrinya. Ia meninggal mendadak saat sedang berada di kamar mandi dan tak segera tertolong karena serangan jantung.
Nurjannah bersama sang suami, Sujaya, di kala masih hidup. Foto: dok. pribadi Yani Sujaya |
"Waktu suami meninggal tuh rasanya kayak di otak ada yang meledak gitu. Kaget aja, nggak nyangka. Saya setiap malem nangis terus, ada mungkin 3 bulan saya terpuruk. Kalau yang disebut istilah 1001, suami saya itu yang satu (satu di antara seribu). Nggak ada duanya di dunia," katanya, agak sedikit berkaca-kaca.
"Bapak saya itu orang paling setia sama Ibu, sayaang banget. Pernah disuruh nikah lagi karena keadaan Ibu dan waktu itu Bapak masih muda, beliau nggak mau karena masa diuji segini aja udah nyerah. Jadi beliau itu selalu bilang kalau keadaan Ibu bukan cuma ujian buat Ibu aja, tapi juga ujian buat kita semua," pungkas Yani, putri sulungnya.
(frp/up)












































Nurjannah bersama sang suami, Sujaya, di kala masih hidup. Foto: dok. pribadi Yani Sujaya