Jumat, 20 Jul 2018 12:42 WIB

Digerogoti Kanker, Pria Ini Kehilangan Hidung, Pipi, dan Matanya

Widiya Wiyanti - detikHealth
Karena kanker dan tumor, pria di Kanada kehilangan hidung, pipi, dan mata sebelah kiri. Foto: thinkstock Karena kanker dan tumor, pria di Kanada kehilangan hidung, pipi, dan mata sebelah kiri. Foto: thinkstock
Jakarta - Seorang pria di Montreal, Kanada harus berjuang dengan kondisi wajahnya yang tak sempurna. Ia kehilangan hidung, pipi, dan matanya karena kanker.

Awalnya terdapat benjolan di bagian lubang hidung sebelah kiri Sylvain Pharand, ternyata itu adalah sinus dan tumor yang lambat laun menjadi kanker yang mematikan.

Lubang di hidung sebelah kiri itu pun semakin membesar. Akhirnya dokter bedah mengoperasinya untuk mengangkat tumor yang bersarang tersebut pada tahun 2010.

"Saya memiliki tumor di lubang hidung sebelah kiri, yang ingin ini diangkat karena tidak nyaman saat bernapas," ujar Sylvain dikutip dari The Sun.

Namun, tumor lain muncul di hidung sebelah kanan dan mengharuskan dokter untuk mengangkatnya juga pada tahun 2012. Sayangnya, tumor lagi-lagi kembali muncul di bagian dekat mata, pada tahun 2014 akhirnya Sylvain kehilangan mata dan pipi sebelah kirinya.

Secara keseluruhan, Sylvain menjalani 125 sesi radioterapi dan satu minggu menjalni brachytherapy, yaitu jenis radioterapi yang digunakan untuk mengobati kanker dengan cara menaruh sumber radiasi secara langsung di dalam atau di dekat tumor ganas.

"Berdasarkan scan dan tes selama tiga tahun terakhir, tidak ada lagi tumor yang ditemukan, saat ini saya sedang membangun kembali pipi dan mata saya dengan kulit dari kaki dan prostesis buatan," ungkapnya.


Proses pembuatan prostetik berjalan lancar, tetapi lama-kelamaan hidung, pipi, dan mata prostetik itu terlalu berat dan para ahli tidak yakin itu bisa bertahan lama.

Radioterapi juga membuat pertumbuhan rambut Sylvain terhenti di bagian kiri kepalanya. Hal-hal itu membuatnya tidak percaya diri untuk pergi keluar rumah. Dan tak jarang beberapa orang menatapnya terus-menerus seakan melihatnya suatu hal yang aneh.

"Beberapa orang sangat baik dan pengertian, namun beberapa orang terus menatap saya, membuat saya merasa tidak nyaman sampai pada titik di mana saya terkadang tidak ingin keluar," tuturnya.

Sejak menyelesaikan perawatan radioterapi tahun lalu, ia berharap untuk melanjutkan hidupnya dan melakukan transplantasi rambut untuk membuatnya lebih percaya diri.

"Sayangnya, perawatan ini sangat mahal, dan saya tidak punya uang untuk membayarnya," tutupnya.




(wdw/up)
News Feed