Sabtu, 21 Jul 2018 15:14 WIB

Kisah Perawat di Desa Tertinggal: Rangkul Dukun Beranak Sebagai Partner

Suherni Sulaeman - detikHealth
Munadir, perawat yang mengabdi dengan merangkul dukun beranak sebagai partner. Foto: dok. Pribadi/Munadir Munadir, perawat yang mengabdi dengan merangkul dukun beranak sebagai partner. Foto: dok. Pribadi/Munadir
Gorontalo - Mengabdi di sebuah desa tertinggal tentunya membawa banyak duka ketimbang suka. Ya, hal itu dirasakan oleh Munadir, salah satu dari tim Nusantara Sehat. Munadir yang telah bertugas selama satu tahun sembilan itu ingat betul bagaimana awal-awal ia menginjakkan kakinya di Puskesmas Batudaa Pantai, Provinsi Gorontalo.

Perawat yang tergabung dalam tim NS batch V ini mengaku menemukan banyak tantangan, salah satunya masih banyak warga yang mempercayakan dukun beranak untuk menolong persalinan.

"Masih banyak ibu hamil yang bersalin di dukun (dirumah). Karena masyarakat di sana masih kental dengan adat dan budaya," ungkap pria kelahiran Parepare, 18 April 1989 itu saat berbincang dengan detikHealth.

Munadir dan tim lantas melakukan pendekatan dengan para warga agar ibu hamil melahirkan di fasilitas kesehatan. Menariknya, tim NS justru memberdayakan dukun-dukun beranak tersebut sebagai partner untuk membantu persalinan. Bahkan kini dukun-dukun itu turut mensosialisasikan kepada para ibu hamil untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, guna menekan angka kematian ibu dan anak.

"Pendekatan yang kami lakukan ke dukun itu menjalin komunikasi yang baik dengan mereka, dan pada saat persalinan kami berdayakan untuk membantu persalinan. Kami juga melakukan pelatihan untuk mereka supaya mereka juga mengetahui proses persalinan dari segi medis dan resiko saat persalinan," ujar Munadir yang hobi olahraga itu.


Saat bidan melakukan sosialisasi bersama ibu hamil.Saat bidan melakukan sosialisasi bersama ibu hamil. Foto: dok. Pribadi/Munadir




Tantangan besar berikutnya adalah akses jalan yang jelek. Ini juga yang membuat warga jadi ogah berobat ke Puskesmas. Paling dalam sehari, dikatakan Munadir hanya 15 pasien yang berkunjung ke Puskesmas.

"Ternyata yang datang berobat cuma 3 desa terdekat dari Puskesmas karena jalan jelek, daerah pengunungan, jalannya berbatu dan kalau hujan jalan menjadi licin karena gunung kapur. Cuma sebahagian jalan yang sudah di aspal dan kendaraan yang sangat susah dari desa ke Puskesmas, tidak ada trasportasi umum ke Puskesmas, kalau mau berobat ke Puskesmas harus mengunakan motor (ojek) dengan harga relatif mahal," tutur Munadir.

Dengan segala keterbatasan tersebut, Munadir dan tim, juga bersama Puskesmas Batudaa Pantai akhirnya melahirkan inovasi SESAMA (SEhari berSAma MAsyarakat), yakni kegiatan semacam 'memindahkan' Puskesmas ke tengah-tengah masyarakat desa yang didukung oleh semua tenaga kesehatan mulai dari dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, gizi, apoteker, kesling dan lain-lain.

"Dalam kegiatan SESAMA antara lain pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan kesehatan gigi, dan pemberian penyuluhan tentang kesehatan. Dari kegiatan SESAMA ini kami dari puskesmas lebih dekat sama masyarakat," pungkasnya.

Kerja keras Munadir dan tim pun tak sia-sia. Perlahan berbagai kendala bisa mereka hadapi. Namun langkah Munadir dan tim tak berhenti sampai di sini, mereka tetap harus berjuang demi membangun Indonesia dari segi kesehatan, khususnya wilayah Kecamatan Batudaa Pantai.

"Banyak sekali cerita tentang kendala yang kami hadapi di Puskesmas Batudaa Pantai. Semuanya kami bisa lalui dengan baik karena kami anak-anak NS batch V telah melalui proses pendidikan, pelatihan dan bimbingan di PUSDIKES Kramat Jati selama 40 hari. Itu sudah membuat kami kuat untuk ditempatkan di seluruh Indonesia, khusunya Puskesmas DTPK (Daerah Tertingal, Perbatasan dan Kepulauan Terluar)," tandas Munadir.




(hrn/wdw)
News Feed