Selasa, 31 Jul 2018 16:32 WIB

True Story

Legenda Atlet Angkat Besi Winarni Butuh Bantuan Biaya Pengobatan Anak

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Winarni/dok.pribadi Foto: Winarni/dok.pribadi
Jakarta - Anak yang sehat dan bahagia adalah impian semua orang tua. Namun bagi Winarni (42), ia terpaksa menelan impian tersebut sementara saat mengetahui anak ketiganya mengalami penyakit kronis.

Nama Winarni dalam dunia olahraga Indonesia sudah tak asing lagi. Ia adalah atlet angkat besi Indonesia, menjadi juara pada Kejuaraan Dunia 1997 kelas 50 kg dan meraih medali perunggu pada Olimpiade Sydney tahun 2001.

Ahmad Fariz Taufik lahir pada 2016 dengan metode caesar. Saat itu kebahagiaan Winarni akan kelahiran Fariz terusik karena anaknya memuntahkan kembali susu yang ia minum.

"Nah dokter curiga, terus dirujuk ke Rumah Sakit Bandar Lampung dan di ICU. Setelah dirontgen anak saya ada kelainan jantung. Katupnya terbuka jadi bocor. Di situ dicurigai juga ada penyempitan (jalur makan)," ungkap ibu berusia 42 tahun tersebut ketika dihubungi oleh detikHealth lewat sambungan telepon, Selasa (31/7/2018).

Winarni melanjutkan, Fariz kemudian dirujuk ke RS Harapan Kita Jakarta Barat guna mengobati kelainan jantungnya selama sekitar 3-4 hari. Setelah itu, ia kembali dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo untuk pengobatan lebih lanjut, namun ternyata ditemukan penyakit lain pada tubuh Fariz, yakni esophageal atresia atau atresia esofagus.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), atresia esofagus adalah cacat lahir di mana esofagus bayi (saluran yang menyambungkan pencernaan dengan mulut) tidak berkembang dengan benar. Dampaknya bayi tidak bisa meneruskan makanan dari mulut ke perut, dan kadang juga kesulitan bernapas.


Karena penyakit tersebut, Fariz tidak bisa makan makanan padat. Makanan bisa masuk ke perutnya hanya lewat infus yang tersambung kateter selang yang dipasang ke dalam perut (gastric catheter), dan hanya bisa dalam berbentuk cairan yakni susu.

Susu yang ia minum merupakan susu formula khusus yang sangat susah dicari, imbuh Winarni. Hingga satu tahun pemberian susu tersebut, ia mencoba mengkonsultasikannya ke dokter gizi apakah bisa diganti susu formula biasa.

Kondisi Fariz yang mengenakan gastric catheter.Kondisi Fariz yang mengenakan gastric catheter. Foto: Winarni/dok.pribadi


Beberapa macam susu formula ia coba, namun malah membuat Fariz turun berat badannya. Akhirnya pada susu terakhir yang ia coba, berat anaknya naik dan semakin aktif. Sayangnya, susu kaleng seberat 400 gram tersebut habis dalam sehari sehingga mengharuskannya membeli tiap hari dengan harga yang tidak terlalu murah.

Sejak kecil Winarni telah mengajarkan kepada Fariz bahwa makanan yang ia lihat tidak bisa ia makan. Akan tetapi jika ia ingin, Winarni memperbolehkan Fariz untuk menjilatnya.

"Saya bilang 'jilat aja nggak apa apa'. Kalau lihat roti gitu dia jilat terus bilang 'Enaknyaaa..'," kata Winarni, yang saat ini berdomisili di Lampung.

Ia menyebut jika Fariz sudah terlihat aktif sejak pagi, maka berarti ia tidak sedang merasakan sakit. Lain halnya jika tiba-tiba dia diam kemudian terbatuk, sesak, dan hal tersebut kerap terjadi misalnya saat ia baru saja di bawa keluar jalan-jalan.

Saya pengennya operasi dulu. Saya pengen anak saya bisa makan kayak anak biasanya.Winarni











Dilema kembali menerpa Winarni. Untuk mengobati Fariz, dibutuhkan operasi yang akan menyambungkan usus besarnya langsung ke kerongkongan. Namun, Winarni dan suaminya yang hanya menjadi pegawai kantoran biasa ini tak tahu lagi harus mendapatkan biaya dari mana.

"Udah nggak tahu lagi, udah nggak ada apa-apa. Saya berat banget, sedih juga rasanya. Mau jual rumah juga, sempet kepikiran," ucapnya sedih.

Untuk kesembuhan Fariz, Winarni memperkirakan akan habis 300 juta. Itu termasuk pembelian susu, selang, perban yang diperlukan selama masa persiapan operasi. Usia Fariz yang kini sudah memasuki 2,5 tahun juga menjadi pertimbangan mantap dilakukannya operasi.

Ia sempat berada di Jakarta beberapa hari lalu, datang untuk memenuhi undangan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI guna menyemangati para atlet yang akan berlaga di Asian Games 2018 Agustus mendatang.


Kisahnya ini sempat viral, hingga akhirnya mendapatkan bantuan dari PT POS Indonesia, Kemenpora dan Persatuan Angkat Beban, Binaraga, dan Besi Seluruh Indonesia (PABBSI). Laman donasi online di KitaBisa.com juga dibuatkan untuk menggalang dana operasi bagi Fariz.


Diperkirakan jika donasi dan biaya dapat terkumpul, operasi Fariz rencananya akan dilaksanakan akhir Agustus atau pada bulan September nanti di RS Cipto Mangunkusumo.

"Makanya ini lagi persiapan, semoga sampai operasi Fariz sehat terus. Saya pengennya operasi dulu. Saya pengen anak saya bisa makan kayak anak biasanya," tegasnya.

detikHealth berkesempatan untuk berinteraksi dengan Fariz melalui sambungan video call dengan Winarni. Terlihat Fariz cukup sehat dan aktif, walau memang geraknya sedikit terbatas.

"Alhamdulillah sekarang Faris aktif. Berat badannya agak turun, jadi 9,7 (kilogram). Ya kurus banget, saya nggak tega tiap liat dia buka baju."

"Berjuang untuk Fariz bukan hal yang mudah. Perawatannya apalagi, pesimis kalau lihat biaya. Tapi terima kasih udah banyak support. Kembali lagi mungkin dikasih jalannya sama Allah begini," tutup Winarni.


Apakah kamu juga ingin menjadi bagian dari dukungan untuk Fariz? Kamu bisa langsung klik donasi di laman KitaBisa.com di bawah ini, dan membagikan tautan kitabisa.com/atletangkatbesi untuk membantu Winarni.



(frp/fds)
News Feed