Kamis, 27 Sep 2018 07:03 WIB

True Story

Inspiratif, Kisah Sepasang Suami Istri Rawat ODGJ

Charolin Pebrianti - detikHealth
Para pasien ODGJ yang dirawat di Desa Paringan. Foto: Charolin Pebrianti Para pasien ODGJ yang dirawat di Desa Paringan. Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo - Siang terik di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan nampak sebuah bangunan layaknya asrama. Saat didekati, ternyata para penghuninya bukanlah warga normal pada umumnya. Melainkan para penderita Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Mereka sengaja dikumpulkan dan dirawat didalam bangunan sederhana milik warga.

Pemilik tempat tersebut adalah Heru Setiawan (50) dan Lamini (45). Sepasang suami istri ini sudah mengabdikan diri menjadi perawat bagi para ODGJ. Mereka sudah menjalani perawatan ini sejak 28 tahun lalu.

"Ini karena kami iba dengan kondisi mereka (para ODGJ) yang ditelantarkan di jalan, siapa yang mau merawat mereka jika bukan kami," tutur Heru.

Ada 3 ruangan disini masing-masing berukuran 3 x 2,5 meter yang sedang menampung 8 penderita ODGJ. Mereka pun dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Disini mereka diajari untuk melakukan kebutuhan dirinya secara mandiri. Mulai dari mandi, makan, memasak dan cuci baju sendiri.

"Di sini bukan rehabilitasi ya, lebih tepatnya terapi, jadi mereka diajari untuk mandiri," terang dia.

Saat dikunjungi detikcom, para penghuni nampak tenang. Layaknya orang normal ada yang melihat tayangan televisi, ada yang duduk santai di kamar dan adapula yang sibuk menyapu. Ketika Lamini mau membagikan makanan ringan, mereka pun nampak tenang saat diberi kue. Bahkan setelah diberi tak lupa mereka mengucapkan terima kasih sembari tersenyum.

Heru mengatakan tiap kali waktu makan tiba, para penghuni kerap tak sabar untuk bisa makan. Aktivitas makan merupakan agenda rutin tempat ini. Setelah makan, seluruh penghuni minum obat. Guna mempercepat proses kesembuhannya.

"Ada yang minum obat tiga kali sehari. Ada yang dua kali sehari," kata Heru.



Heru SetiawanHeru Setiawan Foto: Charolin Pebrianti


Menurutnya, obat untuk para pasien bukan sembarangan. Tapi berasal dari dokter kejiwaan dari Dinas Kesehatan yang dipasok tiap bulannya. Dokter yang menangani segi kejiwaan sesuai prosedurnya, pasien jiwa yang masuk kesini terlebih dulu menjalani pemeriksaan kesehatan. Nantinya, dokter mendiagnosa jenis penyakitnya.

"Tapi di sini semua jenis Skizofrenia," tukasnya.

Rupanya, Heru juga punya cara unik biar para penghuni gangguan kejiwaaan mau minum obat. Sebab, kalau susah minum obat, maka sama saja memperlambat penyembuhan.

"Minum obatnya gampang-gampang susah. Kalau yang mau dikasih pil polos dibilang ini kayak permen, enak," terangnya.

Pihaknya wajib mencatat pula setiap perkembangan kejiwaan satu sama lain dari penghuni. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana upaya penyembuhan. Pencatatan itu disesuaikan dengan nama masing-masing.

"Saya itu iba, saya iklas merawat mereka. Saya juga bersyukur bisa merawat mereka itu kok saya kuat," jelas Lamini.

Awalnya, para penghuni ditempatkan di barak dekat 'nempel' jadi satu dengan rumah milik keluarga Heru. Namun melihat banyaknya jumlah penghuni. Heru pun memutuskan mengajari para penghuni laki-laki untuk membuat batako yang digunakan untuk membuat bangunan yang lebih layak. Sumbangan dari para donatur dan keluarga pasien pun menjadi berkah tersendiri agar para penghuni bisa tinggal dengan layak dan nyaman.

"Saya ajari buat batako, alhamdulilah ada rejeki saya buatkan bangunan disini. Dibantu penghuni dan warga," papar dia.

Meski kelihatannya saat ini merawat ODGJ terlihat mudah, keduanya pun sempat mendapat pandangan sinis dari warga sekitar. Mereka pun memaklumi keadaan tersebut, pasalnya warga takut jika ada penghuninya yang kabur dan berbuat onar di kampung. Akhirnya Heru pun berinisiatif membangun pagar mengelilingi sekitar bangunan yang dihuni oleh para ODGJ ini.

"Alhamdulilah semakin lama warga semakin bisa menerima," imbuhnya.

Heru Setiawan sedang berbincang dengan salah satu pasien.Heru Setiawan sedang berbincang dengan salah satu pasien. Foto: Charolin Pebrianti


Menurutnya sebagian besar penghuni adalah gelandangan yang berasal dari penertiban Satpol PP. Namun ada pula, pasien yang datang dengan diantar keluarganya. Selain dari Ponorogo sendiri, ada yang berasal dari Madiun, Magetan, Wonogiri, Trenggalek dan daerah sekitarnya.

"Bahkan dua anak saya juga ikut merawat para penghuni, semoga ini jadi ladang amal bagi kami sekeluarga," katanya.

Mereka yang dinyatakan membaik, akan diajari pekerjaan. Tercatat dari pasien yang sudah membaik, bekerja di sejumlah tempat kerja. Mulai dari mengurus kebun, membersihkan tempat para penghuni bahkan penghuni yang lama mampu memasak dan menyediakan makanan bagi penghuni baru.

Untuk proses kesembuhan lanjut dia, tiap pasien beda-beda waktu pemulihannya. Ada yang menahun sakit dan hanya dirawat di rumah. Ada juga pasien yang lama tak sembuh-sembuh. Namun tim medis tak lelah memberikan dosis obat kepada mereka.

"Kami juga punya pengalaman yang tidak terlupakan, pernah ditendang, ditonjok. Tapi kami bersyukur masih sabar menghadapi mereka," ujarnya.

Heru menambahkan dirinya mendirikan tempat rehabilitasi ini karena ingin mengurangi orang dengan gangguan kejiwaan. "Memutus mata rantai peredaran orgil (orang gila) berbasis gelandangan," ucapnya.

Hal itulah yang melatarbelakanginya mendirikan pusat rehabilitasi warga yang terganggu kejiwaannya. Dari awal pendirian, hingga saat ini, jumlah pasien yang sudah berhasil sembuh mencapai puluhan orang. "Sekitar 50 orang," pungkas pria yang menjabat sebagai Kepala Dusun ini.

Salah satu pasien ODGJ.Salah satu pasien ODGJ. Foto: Charolin Pebrianti
(Charolin Pebrianti/up)