Selasa, 23 Okt 2018 08:35 WIB

True Story

Cerita Zahra Jatuh Bangun Melawan Kanker Ovarium Sejak Umur 7 Tahun

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Kanker tidak menghentikan semangatnya untuk menggapai cita-cita (Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth) Kanker tidak menghentikan semangatnya untuk menggapai cita-cita (Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth)
Jakarta - Zahratunisa Maulidiyah (20) tak pernah menyangka akan menjadi seorang survivor kanker ovarium. Kala itu, usianya baru saja 7 tahun, namun ia mengalami gejala-gejala yang tak biasa dan membuat orangtuanya curiga sehingga membawanya ke Puskesmas.

Awalnya, ia mengeluhkan sakit perut dan kesulitan untuk buang air besar (BAB). Zahra kecil juga mengeluarkan darah mirip seperti menstruasi.

"Habis itu ibu periksa ke dokter Puskesmas 'Kenapa nih Dok? Kok bisa kayak gini gejalanya?' Terus habis itu ketahuan sama dokter langsung dioper ke RSCM (Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo). (Kata dokter) 'Ini mah sudah kanker Bu, mau tahu lebih lanjutnya ke rumah sakit besar'," katanya di sela Roadshow Goes to Manado Cancer Buster Community (CBC), Senin (23/10/2018).

Setelah dirujuk ke RSCM, ia langsung menjalani pemeriksaan mulai dari CT Scan, USG (ultrasonografi), serta pemeriksaan lainnya. Saat itu dokter berkata bahwa sel kankernya tidak bisa diangkat. Akan tetapi, setelah dilakukan operasi, sel kanker tersebut berhasil dihilangkan. Namun, Zahra yang masih kecil dan polos terpaksa merelakan dua sel telurnya diangkat.



"Enggak ngerti (saat dioperasi), cuma bilang 'ibu kita mau ngapain ke rumah sakit?' nanya gitu doang. (Jawab ibunya) 'Ini pengin berobat doang.'"

Namun beranjak dewasa, ia pun mendengarkan cerita dari orang tuanya bahwa ia pernah mengalami kanker ovarium sama seperti sang ibu dulu.

"Tahu diangkat sih diceritain ibu pas sudah gede. 'Kakak kena ovarium kayak ibu, cuma kakak diangkat dua-duanya'," ujarnya.


Jujur, terkadang rasa minder menyelimutinya. Ia berharap suatu hari nanti ada pria yang mau menerimanya dengan segala kekurangannya. Tak hanya itu, ia mengalami penurunan sistem imun terlebih ketika merasa terlalu kecapekan. Ia juga masih harus menjalani terapi hormon karena tidak mengalami siklus menstruasi.

Tapi, walau harus merasakan lelahnya pengobatan hingga pernah koma saat kemo kelima, tak mematahkan semangat Zahra untuk terus meneruskan kehidupannya dan mengejar impian menjadi guru seperti ayah dan ibunya. Mahasiswa STAI Al-Hikmah Jakarta jurusan Pendidikan Guru PAUD (PGPAUD) ini pun sudah mengajar murid-murid PAUD sambil terus berkuliah.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini pun menitipkan pesan semangat untuk teman-teman yang kini sedang berjuang melawan kanker.

"Semangat terus, jangan mau kalah sama penyakit kita yang ada di dalam. Intinya terus berjuang, kanker itu kan harus kita lawan bukannya malah menyerah," tuturnya sembari tersenyum.





Tonton juga 'Cerita Aryanthi Baramuli, Survivor Kanker Payudara':

[Gambas:Video 20detik]

(ask/up)
News Feed