Jumat, 23 Nov 2018 11:05 WIB

True Story

Idap Kanker Langka, Wanita Ini Meninggal Enam Hari Usai Menikah

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Usai menikah, Sam harus pergi selamanya akibat kanker langka yang diidapnya. Foto: ilustrasi/thinkstock Usai menikah, Sam harus pergi selamanya akibat kanker langka yang diidapnya. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Telah berpacaran selama empat tahun, tak ada yang lebih diinginkan oleh Alec (38) dan Samantha (33) untuk menikah, berkeluarga dan mempunyai anak. Namun kadang takdir berkata lain. Sebelum semuanya terlaksana, pasangan ini justru mendapat kabar buruk: Samantha terdiagnosis kanker langka di usus buntunya dan divonis hanya punya beberapa minggu untuk bisa hidup.

Namun hal tersebut tak menghalangi keinginan mereka untuk bersatu di hadapan Tuhan. Atas bantuan para staf rumah sakit, keinginan terakhir Samantha dapat terwujudkan, walau hanya terbaring lemah di atas kasur rumah sakit dan dihadiri oleh 20 orang, termasuk teman akrab dan orang tuanya.

"Pernikahan itu sangat emosional bagi kami. Hari itu merupakan hari yang terberat, namun di saat yang sama juga indah. Sam sangat spesial dan ketika ia masih hidup ia sangat berpengaruh dalam banyak komunitas. Dia luar biasa. Aku merasa patah hati namun bangga kami dapat mewujudkan hal ini," ungkap Alec yang berprofesi sebagai wirausahawan ini, dikutip dari FoxNews.

Samantha terdiagnosis kanker agresif di bagian usus buntunya pada bulan Juni 2018 lalu. Mulanya ia sering mengeluh alami nyeri di perut, walau begitu sebelumnya wanita yang berprofesi sebagai guru matematika ini sangat bugar dan sehat. Ia dan Alec juga sering pergi ke gym bersama-sama.


"Sam tidak pernah merokok atau mengonsumsi obat-obatan bahkan alkohol pun tidak. Kita selalu minum air mineral kapanpun kita pergi makan bareng. Dokter memberitahunya kanker telah ada pada dirinya 10 minggu sebelum ia meninggal, namun kemungkinan besar sudah berkembang enam hingga delapan bulan sebelumnya," ujar pria yang membuka usaha transportasi tersebut.

Mereka menikah pada 1 September, dan Samantha meninggal enam hari kemudian, pada tanggal 7 September. Alec mengisahkan kanker tersebut merenggut nyawa istrinya dengan sangat cepat, namun Sam telah meneguhkan hatinya untuk tetap menikmati hari besar mereka tersebut.

Kanker usus buntu yang menyerang Sam merupakan jenis yang langka. Di Amerika sendiri, hanya 1,2 kasus per 100 ribu orang per tahunnya, menurut sebuah studi tahun 2015, dikutip dari Healthline. Kanker ini biasanya dimulai dengan gejala perut kembung, nyeri perut hebat, rasa tak nyaman yang tak bisa dijelaskan di perut bawah kanan, gangguan buang air, hernia dan appendicitis.


Alec menuturkan semasa hidup Sam adalah orang yang selalu tersenyum apapun yang terjadi dan ia selalu membuat sekitarnya juga tersenyum. Bahkan ia menyebut tak ada satu foto di mana mendiang istrinya tersebut tak tersenyum.

Salah seorang perawat bangsal, Leanne Morgan, menceritakan bahwa untuk mendukung hari besar mereka berdua, pihak rumah sakit membuatkan cetakan terbuat dari semen di mana kedua tangan mereka saling menggenggam. Dan juga membuatkan kancing manset dengan sidik jari Sam, untuk dipakai oleh Alec.

"Tentu saja semua orang berbondong-bondong untuk membantu dan mengatur apa yang dibutuhkan agar semuanya berjalan lancar. Kami sangat gembira untuk mereka, hari itu merupakan hari yang sangat ajaib dan penuh kenangan bagi mereka," pungkasnya.



(frp/up)
News Feed