Rabu, 28 Nov 2018 10:00 WIB

Luar Biasa! Wanita Ini Rajin Berolahraga Walau Idap Kanker Stadium Empat

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Diagnosis kanker stadium empat tak halangi seorang wanita untuk olahraga (Ilustrasi: thinkstock) Diagnosis kanker stadium empat tak halangi seorang wanita untuk olahraga (Ilustrasi: thinkstock)
Jakarta - Menjadi seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses di usia muda, tak pernah terbayangkan dalam pikiran Saima Thompson akan terkena penyakit kanker paru. Apalagi terdiagnosis pada stadium empat, yang sudah tentu tidak dapat diobati.

"Aku sangat, sangat terkejut. Lebih dari apapun. Jelas itu adalah hal terakhir yang ingin kudengar," ungkapnya, dikutip dari Metro.

Hidup wanita berusia 29 tahun ini otomatis jungkir balik. Hal ini bermula ketika ia sering tak enak badan dan merasakan nyeri punggung atas dan rasa bengkak di dadanya. Usai memeriksakan diri ke dokter, ia divonis stadium empat kanker paru non-small cell (NSCLC).

Pasca diagnosis, Saima sempat mengalami serangan panik pertama kali dalam hidupnya. Sampai-sampai ia berakhir di ICU setelah pingsan pada pukul empat pagi. Namun ia merasa, ketimbang larut dalam kesedihan dan ketakutan, ia mencoba melawannya.



Saima lalu menikah dan memulai perjalanan untuk mengklaim kembali kesehatan tubuh dan mentalnya. Ia berfokus pada tujuan bahwa ia hanya ingin hidup. Saima menemukan strateginya untuk membuat hidupnya lebih mudah dijalani, kuncinya adalah melalui kebugaran, sehingga olahragan menjadi passion terbesar Saima.

Wanita yang memiliki sebuah restoran Pakistan di London ini menyebut bahwa adanya anggapan soal orang yang berada dalam stadium empat kanker akan lemah, rapuh, harus istirahat di tempat tidur dan tak dapat 'menghidupi' hidupnya. Saima ingin meredefinisikan hal tersebut dan membuktikan bahwa hidup dengan kanker tak berarti kamu tak bisa hidup senang.

Awalnya, enam minggu pasca diagnosis ia memulai dengan berjalan kaki. Lalu ia bermeditasi untuk mengusir rasa cemasnya, mengikuti beberapa terapi psikologis. Semua latihannya ia lakukan bersama kawannya yang juga seorang pelatih pribadi.

"Kebugaran kardiovaskular Saima meningkat secara dramatis, denyut jantungnya lebih rendah saat beristirahat dan ketika sedang berolahraga. Ia menjadi lebih kuat, koordinasi, fokus dan konsentrasinya juga meningkat. Kekuatannya kini lebih baik, dia juga angkat beban dan aku sangat bangga pada kemajuannya," kata Lizzie Fluke, sang pelatih pribadinya.



Efek samping kemoterapi yang dijalani Saima dan obat-obatan sempat mengganggu koordinasi dan kendali otot Saima pada awalnya. Lembaga Onkologi Klinis Australia menyatakan aktif secara fisik dan rutin berolahraga sangat penting bagi kesehatan, fungsi, kualitas hidup dan potensial harapan hidup pada pengidap kanker.

Olahraga yang dapat dilakukan pengidap kanker berbeda-beda, disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemampuan tubuh masing-masing. Pada Saima, kanker berada pada tulang kecilnya sehingga beberapa olahraga yang melibatkan daerah tersebut harus dihindari.

Lizzie menjelaskan aktif secara fisik bagi para pengidap kanker tak melulu soal olahraga. Bisa saja mulai dari hal yang disenangi, seperti pekerjaan rumah ringan, berjalan, berkebun. Setidaknya lima atau sepuluh menit tiap kegiatannya.

Sekitar 85 - 90 persen diagnosis kanker paru adalah NSCLC atau kanker paru non-small cell. Kanker paru sendiri merupakan kanker penyebab kematian terbesar pada pria di Indonesia.

Saima mengaku sejak kembali berolahraga ia dapat melihat hasil yang sangat luar biasa. Ia merasa lebih kuat dan membantunya mengatur sistem sarafnya, makan dan tidur menjadi lebih baik.

"Poinnya adalah hari ini hidup lebih baik. Itu fokusku. Aku pikir banyak pasien kanker yang merasa sedikit sedih dan bimbang soal keadaan mereka, tapi itu dapat dimengerti. Mereka harus melalui pukulan besar saat menerima kabar mengerikan ini, namun yang benar-benar ingin kusampaikan adalah kamu bisa hidup dengan baik, ini bukanlah akhir dari segalanya," tutup Saima.

(frp/up)
News Feed