Rabu, 19 Des 2018 10:29 WIB

Ajaib! Tumor Otak Ganas Gadis Ini Lenyap, Begini Ceritanya

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi gadis mengidap tumor otak. Foto: Thinkstock Ilustrasi gadis mengidap tumor otak. Foto: Thinkstock
Jakarta - Bagaimana bisa tumor otak yang bersarang di kepala gadis berusia 11 tahun lenyap begitu saja secara misterius? Bahkan ahli bedahnya saja tidak mampu untuk menjelaskan.

Dikutip dari Daily Mail, kisah ini bermula saat Roxli Doss pada bulan Juni lalu didiagnosis tumor otak tingkat tinggi yang dikenal dengan Diffuse Intrinsic Pontine Glioma (DIPG). DIPG merupakan bentuk kanker yang sangat langka dan sangat agresif yang biasanya ditemukan pada anak-anak antara usia lima dan sembilan tahun.

Roxli mengeluhkan sakit kepala yang terus-menerus dan mudah sekali merasa lelah. Hal ini disebabkan karena tumor terletak di pangkal otak dan bagian atas tulang belakang. Tumor menekan area otak yang disebut pons, yang bertanggungjawab untuk beberapa fungsi tubuh, seperti pernapasan, tidur, dan tekanan darah.

Seiring waktu, tumor memengaruhi detak jantung, pernapasan, menelan, penglihatan, dan keseimbangan. Gejala yang dialami pun meliputi masalah dengan gerakan mata, kelemahan wajah, kesulitan berjalan, gerakan anggota tubuh yang aneh dan masalah dengan keseimbangan.



Karena tumor jenis ini cukup membahayakan, Roxli harus menjalani pengobatan dengan radiasi terlebih dahulu selama sekitar tiga bulan.

Setelah itu, pada 7 September, Roxli diperiksa MRI (magnetic resonance imaging) untuk melihat kondisi tumornya. Betapa mengejutkannya, tumor ganas itu tidak tampak lagi.

"Ketika saya pertama kali melihat scan MRI Roxli, itu benar-benar tidak dapat dipercaya. Tumor tidak terdeteksi pada pemindaian MRI, ini benar-benar tidak biasa," kata dr Virginia Harrod, dokter spesialis neuro-onkologi yang menangani Roxli.

Ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Namun berdasarkan Michael Mosier Foundation, radiasi dapat mengecilkan tumor DIPG pada 70 persen pasien. Dan biasanya radiasi juga dapat memperpanjang hidup pasien sekitar tiga bulan.



Sementara itu, menurut esai yang ditulis Dr Momna Hejmadi, seorang pengajar senior di departemen biologi dan biokimia di University of Bath di Inggris, satu alasan tumor bisa hilang karena kekebalan tubuh juga memicu tubuh terhadap antigen tertentu.

"Dasar pemikiran yang mendasari fenomena ini adalah bahwa respon imun lokal setelah operasi sudah cukup untuk menghentikan pertumbuhan sisa tumor," tulisnya.

Karena tidak pernah menemukan kasus seperti Roxli, dokter tetap mengharuskannya menjalani perawatan lanjutan untuk mencegah adanya sel kanker baru tumbuh. Dan dokter memutuskan untuk melakukan imunoterapi pada Roxli, sejenis pengobatan untuk meningkatkan pertahanan tubuh.

"Kami tidak tahu berapa lama dia akan sehat dan, lihatlah dia, dia hanya melakukan hal yang luar biasa," ungkap ayahnya, Scott.


Tonton juga video 'Mengharukan! Pria Ini Bikin Tato Luka di Kepala untuk Anaknya':

[Gambas:Video 20detik]

(wdw/up)