Dikutip dari Daily Mail, Jordyn mulai mengalami diare berdarah dan sakit perut yang parah setelah selesai pelayaran bersama keluarganya. Kemudian dokter mendianosisnya dengan infeksi sinus.
Gejalanya berangsur hilang, tetapi kemudian muncul kembali. Pada awal Desember, ia mengalami sakit perut dan diare berdarah lagi, kali ini dengan muntah selama 10 hari. Orang tuanya pun membawanya ke ruang gawat darurat di University of Kansas Medical Center.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh wajah saya berubah menjadi ungu, memar, dan bengkak dengan darah," katanya kepada WDAF.
Jordyn segera menjalani operasi darurat, di mana tulang dikeluarkan dari rongga matanya dalam upaya untuk mengurangi pembengkakan, dan menghabiskan empat hari dalam perawatan intensif pediatrik.
Namun, pada 16 Desember, dokter memberitahu keluarganya bahwa ia mengalami kebutaan permanen. Ahli bedah percaya bahwa aliran darah ekstrem ke matanya lah yang merusak saraf optik.
Serangkaian tes pun dilakukan, namun dokter tetap tidak dapat menemukan penyebab pasti kebutaan Jordyn.
"Kami pergi ke setiap spesialisasi, alergi, imunologi, reumatologi. Setiap spesialisasi, tanpa jawaban," ujar ibu Jordyn, Kendyll.
Perawatan Jordyn akhirnya diberhentikan pada 28 Desember. Ia mengatakan bahwa ia sangat merasa bersyukur karena masih bisa hidup walaupun kehilangan penglihatannya.
"Segalanya diambil begitu cepat darimu dan kamu tidak tahu kapan itu akan terjadi," tandasnya.
(wdw/up)











































