Sabtu, 12 Jan 2019 09:13 WIB

True Story

Siapa Bilang Psikiater Tak Rentan Gangguan Mental?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ada anggapan psikiater yang biasa menangani kejiwaan pasti takkan mengalami gangguan mental. Padahal nyatanya, mereka juga manusia yang sama rentannya. Foto: Getty Images Ada anggapan psikiater yang biasa menangani kejiwaan pasti takkan mengalami gangguan mental. Padahal nyatanya, mereka juga manusia yang sama rentannya. Foto: Getty Images
Jakarta - Ada anggapan tak tertulis di mana seorang psikiater yang biasa menangani kejiwaan pasti tidak akan mengalami gangguan mental. Padahal nyatanya, mereka juga manusia yang sama rentannya, walau memiliki ilmu dan pemahaman soal berbagai gangguan mental serta penyebab dan penanganannya.

Lawrence Butterfield memulai karirnya sebagai perawat psikiater di tahun 1980. Dia terdidik dengan budaya 'macho', di mana membagikan emosi mereka saat bekerja sangat tidak disarankan dan dianggap kelemahan.

Sehingga menyebabkannya tumbuh menjadi pribadi yang menolak saat ia mengalami depresi, sampai harus menggunakan izin sakit agar bisa pulih kembali. Lawrence menyebut bahwa psikiater bisa saja keliru dan sama lemahnya seperti orang lain.

"Itu titik balik dalam hidupku, dan ketimbang keterpurukan kini aku melihatnnya sebagai terobosan. Aku menyadari bahwa selama ini aku memberitahuku diriku sendiri kalau mentalku lebih kuat daripada yang sebenarnya, menutupi banyak gejala yang sebenarnya aku alami," tuturnya saat mengisahkan kepada Metro UK.


Psikiater kadang lebih rentan karena mereka memberi stigma pada diri sendiri soal isu kesehatan mental mereka. Kebanyakan 'menolak' akan kerentanan mereka, karena asumsi yang salah soal mereka harus selalu berada dalam kendali.

"(Psikiater) tak boleh menunjukkan kelemahan, jangan sampai 'topeng' mereka terbuka. Hal ini memberikan pesan yang keliru, mempromosikan sebuah dunia ideal yang sebenarnya tidak ada. Sehingga banyak yang tidak benar-benar bisa memahami pengalaman pasien karena tidak mengalaminya sendiri. Bagaimana kita bisa-bisa benar berempati kalau tak pernah memahami apa yang mereka alami?" lanjut Lawrence.

Ia memulainya dengan mencoba untuk membuka diri dan jujur soal perasaannya, dan memandanganya sebagai kekuataun bukan kelemahan. Jika ia dapat menunjukkan kepekaannya, ia percaya ia akan lebih dapat berempati. Sehingga ia akan lebih dipercayai dan akhirnya memberikan hubungan terapeutik dengan para pasiennya.


Lawrence bersyukur dalam 40 tahun ia bekerja dalam bidang kejiwaan, ia telah menyaksikan banyak perubahan positif. Kata-kata hinaan seperti orang gila, maniak, psikopat sudah jarang digunakan, namun ia merasa masih butuh waktu lama untuk para psikiater bisa menjadi nyaman untuk membicarakan masalah mereka sendiri.

Oleh karena itu, kini Lawrence mencoba menjadi role model yang akan mendorong yang lain untuk lebih terbuka dan perlahan memecahkan dinding stigma yang menyelubungi para pekerja di bidang kejiwaan. Lawrence percaya bahwa masih banyak orang lain dalam profesinya yang masih dalam penolakan soal kesehatan mental mereka dan kerentanan mereka bisa alami gangguan mental.

"Dua puluh lima tahun yang lalu saat aku ingin membuat perubahan dan menantang stigma dan diskriminasi kesehatan mental, manajerku bilang untuk mulai dari profesiku sendiri. Dan aku melakukannya. Aku akan terus lanjut melakukan bagianku, sekecil apapun, untuk mendorong yang lain melakukan hal yang sama," pungkasnya.

(frp/up)
News Feed