Kamis, 17 Jan 2019 06:27 WIB

Disangka Dehidrasi, Tak Tahunya Kena Stroke Sampai Berhalusinasi

Rosmha Widiyani - detikHealth
Gejala stroke kadang susah dikenali (Foto: iStock) Gejala stroke kadang susah dikenali (Foto: iStock)
Jakarta - Seorang wanita asal Arizona, Bridget Chiovari, terkena stroke saat hamil putera keduanya Roman pada 2016. Serangan stroke sempat membuat Chiovari berhalusinasi hendak dibunuh suami dan tenaga medis yang menanganinya.

"Saya benar-benar tidak sadar dengan keadaan lingkungan sekitar dan diri sendiri. Saya tidak tahu akibat pendarahan atau pengobatan, namun saya berpikir suami dan staf rumah sakit mencoba membunuh saya," kata Chiovari dikutip dari Daily Mail.

Chiovari mengatakan sempat naik gunung sebelum terkena serangan stroke. Saat turun dia merasakan sakit kepala dan pusing yang tidak bisa ditahan. Padahal menurut Chiovari, dia memiliki tolerasi rasa sakit yang sangat baik.

Diantar suaminya, Chris, Chiovari ke dokter usai menjemput puteri pertamanya Liliana. Saat itu, Chiovari juga menjelaskan sensasi 'pop' di belakang kepala yang diikuti rasa pusing. Chiovari bahkan mulai ngelindur dan mulutnya terasa sangat kering. Namun dokter hanya mengatakan Chiovari mengalami dehidrasi dan mengirimnya pulang.

Kondisi Chiovari tak membaik hingga malam hari, hingga Chris membawanya kembali ke rumah sakit. Chris meminta rumah sakit melakukan tindakan karena menilai kondisi istrinya terlalu parah. Rumah sakit akhirnya melakukan scan otak dan menemukan adanya pendarahan.



Chiovari mengalami pecahnya pembuluh arteriovenous malformation (AVM) di otak. AVM adalah kondisi pembuluh arteri dan vena yang saling berbelit sehingga menyulitkan sirkulasi darah dan oksigen ke otak. Kemungkinkan hidup Chiovari diperkirakan hanya 2 jam saat ditemukan pembuluh AVM telah pecah. Rumah sakit segera mengeringkan darah dengan mengeluarkannya lewat sejumlah selang.

Prosedur ini dilanjutkan dengan embolisation untuk menghalangi darah masuk dalam pembuluh AVM. Prosedur selanjutnya adalah operasi craniotomi, yang membuka tempurung kelapa untuk memperbaiki pembuluh dan bagian otak yang terdampak AVM. Chiovari juga harus melakukan angiogram yaitu teknologi sinar X untuk mengetahui efektivitas jalur pembuluh darah yang baru.

Namun angiogram pertama menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Darah keluar dari pembuluh yang berisiko membahayakan keselamatan Chiovari. Menurutnya, dokter mempertimbangkan ulang operasi atau melakukan radiasi mulai (13/03/2018). Radiasi membutuhkan 1-2 tahun untuk mengurai AVM.

Meski pasrah dengan kondisinya, Chiovari berniat melakukan tindakan yang direkomendasikan dokter dan sembuh. Apalagi saat ini Chiovari telah merasakan perbaikan usai operasi pertama. Chiovari sudah mulai bisa bergerak, meski masih merasa asing, pusing, sulit mengingat, dan kerap hilang keseimbangan. Chiovari juga tak keberatan bila upaya perbaikan memerlukan waktu sepanjang hidupnya.




Simak video 20detik tentang Manfaat Terapi Kejut Listrik bagi Penderita Stroke:

[Gambas:Video 20detik]


Disangka Dehidrasi, Tak Tahunya Kena Stroke Sampai Berhalusinasi
(up/up)
News Feed